Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan di tanah kering bebatuan. (Ebiet G. Ade)

Perjalanan memiliki kisah sendiri dalam parade kehidupan atau bahkan sahabat bagi sebuah petualangan. Seperti stasiun, halte, dan bandara yang selalu menjadi saksi bisu tentang perjalanan. Perjalanan fisik yang tak hanya berarti jarak dalam artian fisik tetapi juga sebuah medium atas perpindahan, perubahan posisi awal dan akhir dalam artian lahir maupun batin.

Tempat adalah saksi bocah yang bertumbuh melalui lorong-lorong kehidupan. Keajaiban di sepanjang perjalananlah yang menguatkan setiap badai yang menerjang karena setiap perjalanan mengantarkan kepada sebuah keyakinan akan kekuatan di luar diri ini dan makna kepulangan, makna kepulangan secara lahir dan batin. Pulang yang mengingatkan tentang rumah sementara di dunia dan rumah abadi yang sebenarnya.

Sesyahdu perjalanan di sebuah kereta di suatu penghujung tahun, Allah mempertemukannya dengan ibunda seorang istri almarhum guru besar almamater kemudian telinga dan hatinya menjadi pendengar yang menjadi tempat beliau mencurahkan kisah hidupnya mengenang sosok guru besar yang sangat terhormat dan jadilah lorong itu menjadi saksi pertemuan pertama yang takkan terlupakan karena pada pertemuan pertama itulah beliau menangis mengenang perjalanan hidupnya bersama kekasih sehidup sesurganya insyaAllah. Semoga Allah merahmati Almarhum dan keluarga. Sekonyol percakapan bocah tengil yang tertahan di kantor imigrasi tersebab petugas mengira dirinya tak cukup umur akhirnya interogasi yang tertahan itu berakhir dari suasana dingin menjadi tawa lepas para petugas. Plong. Semenyesakkan ketika ia mengejar jadwal terbang demi tiba tepat waktu untuk momen berharga qadarullah itulah pesawat terakhir malam itu dan apa daya ada yang harus tertahan di bandara bersama setidaknya ada dua malaikat yang membersamai di sampingnya untuk menghabiskan malam di mushola bandara tapi selalu ada keajaiban dan pertolongan di sana masya Allah la quwwata illa billah.

Pandemi telah membuat tempat-tempat saksi bisu itu seperti momok. Semua ketakutan itu ia terjang demi sebuah pertemuan. Pertemuan yang teramat diridukan dengan dua manusia bak malaikat kehidupan. Namun, sebuah pertemuan itu berakhir dengan tanya yang menggantung dalam diam.

“Kamu yakin?”

Kepalanya mengangguk meski tanpa suara.

Tiada pelukan bahkan jabat tangan di masa-masa seperti itu. Hanya isyarat lambaian tangan, tatapan mata, dan senyuman. Senyuman bermakna keyakinan, harapan, ketakutan, dan kepasrahan.

Gadis itu melangkah perlahan. Suara lonceng kereta bersahutan. Kepalanya menunduk dalam. Dia sudah bertekad bulat. Kepada siapakah dia serahkan? Bukankah Allah sebaik-sebaik tempat bergantung?

Di sebuah lorong kursi yang lengang. Dengan kehendak-Nya lorong itu benar benar kosong melompong. Perjalanan itu menjadi saatnya berefleksi. Pertanyaan itu terus bergema. “Kamu yakin?”

Pada titik itulah, dalam kesunyian sepanjang perjalanan itu, ia mencoba mencari sahabat yang dapat memberinya sumber kekuatan. Ia-lah Alquranul karim yang selalu memberinya pesan-pesan tak terduga dan selalu menyisakan kelapangan seperti ia mengerti kata-kata yang paling dibutuhkannya saat kondisi itu. Rasanya ketika itu terjadi seperti ia menemukan secercah cahaya di tengah terowongan gelap yang panjang berliku seakan tak berujung. Sungguh menakjubkan menyimak pesan-Nya tentang hamba-hamba-Nya yang Maha Pengasih dalam Qs Al Furqan. Ayat-ayat itu yang muncul dan membersamai perjalanan kali itu di tengah rasa takut dan penuh tanya yang berakhir kepada kepasrahan kepada Penguasa atas segalanya, seperti jawaban-Nya atas segala tanya di dalam dada.

Wa innahu la haqqul yaqin. Fasabbih bismi Rabbikal ‘adzhim. (Qs Al Haqqah)

Dalam rangka rindu perjalanan setelah membaca perjalanan kloter perdana kawan ke tanah suci, masya Allah barakallah fii kumʉϬ

*hmmm ini sebenarnya a brief version fullstory lanjutnya mungkin akan ada next story di antologi harmoni seri… rahasia ya 😀