Adakah hujan hari ini
setitik rindu syahdu hujan bulan Juni
mengalir rintik hujan yang kian deras
seperti sajakmu kini menghujani relung hati

Adakah hujan hari ini
bayang-bayang Hujan Bulan Juni
menghujan puisi nan sunyi
serasa hujan bulan Juli
di sanubari jejakmu abadi

Adakah hujan hari ini
bilamana sajak-sajakmu mengalir
di beranda media, lini masa, dan jiwa sanubari
Hujan Bulan Juni telah pergi
dalam butir hujan puisi yang turun di bulan Juli
saripatinya, minyak aksirinya, diserapnya
akar tanah mewangi

Pujangga negeri telah pergi
bersama lirik puisi yang terkubur abadi
dalam sanubari ibu pertiwi

Nurisma Najma, 2020

Dan puisiku, tak pernah sampai kepadanya di alam ini. Ada sebuah puisi di dalam buku Antologi Harmoni Jiwa dan Hati yang sejatinya adalah tulisan di masa muda seorang anak yang ingin mengikuti jejak sang pujangga. Puisi itu berjudul Aku Ingin Menjadi Sapardi Djoko Suwardjono. Tulisan itu sesungguhnya berisi ungkapan hati seorang anak ketika ia mengungkapkan apa yang ditinggalkannya dalam hidupnya, ia ingin menjadi pujangga seperti Sapardi. Sang ayah berkata sambil tertawa, “Satu dari berapa ribu orang yang bisa begitu?” Terima kasih Bapak karena sudah pernah meragukanku, berkatmu aku tak lagi mengejar fana. Karena tak perlu menjadi Prof. Sapardi tak perlu menjadi Prof. Suwardjana, cukuplah aku adalah aku. Aku yang puisi. Aku yang filosofi. Aku yang suka bermain angka. Aku yang ingin berhati samudera. Perjalanan hidup ini mengajarkan diri bagaimana menjadi diri sendiri meski perlu berkaca pada mahaguru nan abadi.

Tahun ini terlalu banyak kepergian. Terlalu banyak sosok yang bahkan tak dikenal menyisakan renung dan refleksi. Terlalu banyak kisah indah dalam setiap akhir kehidupan seseorang yang bahkan tak dikenal. Pahlawan-pahlawan tak dikenal yang agung nan mulia. Betapa indah mereka yang pergi dalam keabadian. Keabadian karyanya, kebaikannya, semangatnya, jiwanya, pemikirannya, ideologinya, dan misi hidupnya. Mulai dari kisah Profesor bidang epidemiologi yang memikirkan jalan keluar negeri tetapi meninggal lantaran infeksi covid-19, para garda terdepan pahlawan kesehatan yang berguguran, seorang bapak renta muslim di Turki yang meninggal dalam dekapan Quran, seorang ayah dengan anak-anak keluarga bintang Al-Quran, para ulama yang ilmunya abadi, para pejuang kemanusiaan, para pujangga dan pemahat karya.

Ada satu hal unik dari kejadian belakangan ini tentang pertemuan dan hikmah berbagai kejadian, tentang ruh-ruh yang beresonansi. Sepertinya aku paham mengapa tak perlu raga bertemu dan berkenalan untuk bisa merasakan resonansi ruh. Sekalipun ini terdengar aneh dan bodoh terbukti ada yang semacam menertawakan keyakinan ini padahal ia tak sedang bercanda meski tetap saja manusia tidak cukup mengetahui. Namun, barangkali ruh-ruh telah saling menyapa sebab ruh kita telah lama saling mengenal di alam sebelum ini. Ruh yang sama-sama berkhidmat kepada kebaikan, bermuara pada Rabbul’alamiin, meski raga tak jua bersua. Tidakkah kau rasa? Akankah suatu saat nanti ruh-ruh ini bertemu kembali dalam abadi?