Tiga jam berlalu. Sudah lama kami tidak bercerita sepanjang ini.

Ia terisak pelan setelah menghabiskan mie rebus di mangkuknya. Aku terdiam mencerna kata-katanya. Dokter memvonis schizophrenia afektif dan dia mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi dokter praktik karena penyakitnya.

Aku mengenalnya sudah hampir 3 tahun. Dia perempuan muslimah mahasiswi Fakultas Kedokteran prestatif yang baik, periang, enerjik, dan selalu optimis. Dia sudah seperti adikku sendiri di tanah rantau. Sampai dia pun diagnosis schizophrenia afektif :’) Sungguh Allah mencintaimu sayang. Jika kau tanya mengapa harus dirimu yang menanggung semua ini. Karena Allah memilihmu. Ada cinta Allah yang dialirkan lewat rasa sakit dan segala diagnosis yang menjatuhkan harapan dan citamu untuk mengabdi dalam bidang yang kau cintai. Barangkali Ia ingin mendekapmu lebih dalam lewat tangis dan doamu. Barangkali Ia ingin menitipkan pesan lewat ketegaranmu. Meski apapun yang kau hadapi, apapun yang terjadi, kau berhati baik, dan cahaya kebaikan selalu membersamai menerangi jalanmu segelap apapun kau rasakan. Kawan, ketika dunia serasa runtuh, ada bahu kecilku yang hadir untukmu, ada kedua telingaku yang siap mendengar segala resahmu, ada hati yang ingin merasakan lukamu. Mungkin aku tak selalu ada hadir di sisimu, tapi doaku menyertaimu. Kau tahu, Allah mencintaimu melebihi rasa sayangku kepadamu yang sangat rapuh ini. Tak cukup bisa mengobati lukamu. Tak cukup kuat menopangmu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.