I am walking on a road of time blown by a freezing breeze. Here, I am waiting for a ride of bliss.

I searched for a tranquility. I looked for it in some faces, voices, and places. It wasn’t there. I found it in solitude, instead. In my broken voices, trembling, reciting His words feels like the drizzle pouring over my desert that blooms in my heart, by and by.

Saya mencari ketenangan. Saya mencarinya di beberapa wajah, suara, dan tempat. Ia tidak ada di sana. Saya menemukannya dalam kesendirian, sebagai gantinya. Dalam suaraku yang patah, gemetar, melafalkan kata-kata-Nya terasa seperti gerimis yang mengguyur padang pasirku yang mekar di hatiku, terus menerus.

(Nurisma Najma)

Beberapa waktu tempo hari, sudah agak lama, saya iseng bertanya ke teman-teman melalui polling di IG story. Seberapa sering kah mereka membaca ayat Al Quran yang ketika dibaca pesannya terasa relate dengan kehidupan, masalah atau pikiran yang membelenggu dan menggelisahkan?

Hampir 100 persen dari responden sepakat bahwa mereka menemukan pesan dari Al Quran yang somehow relate dengan apa yang tengah dihadapi atau at the very least membuat mereka merasa lebih tenang. Masya Allah, hal ini seperti yang Allah sampaikan dalam QS Yunus: 57.

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

(QS. Yunus: 57)

Pada suatu masa, pandemi datang bukan tanpa tujuan. Rasa sedih tentu sangat manusiawi hadir tersebab banyak rencana dan pertemuan yang tertunda. Rasa rindu tentu adalah fitrah yang muncul dikarenakan pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik sesorang tetapi juga kesehatan batin, ketenangan batin apalagi bagi para perantau. Pada titik di mana aku mencoba mencari ketenangan, aku mencoba praktikan pesan Teh Nusaibah sebelum berinteraksi dengan Al Quran yakni memohon kepada Allah. Pada saat itulah, aku bertemu dengan sebuah ayat yang ternyata adalah dalil atau sumber kisah yang belum lama sebelum pandemi datang aku presentasikan di kelas. Waktu itu aku memilih Abu Bakar As Shiddiq untuk diceritakan di kelas. Momen yang di-capture salah satunya kisah perjalanan Rasulullah SAW bersama Abu Bakar. Rasanya baca ayat ini (QS At Taubah: 40) di saaat diri sedang sedih, kalut, dan bingung dengan kondisi pandemi saat itu sangat menentramkan. Dan ternyata ini juga salah satu ayat al-sakinah yang dibahas Ust Faris tempo hari belum lama dalam kelas tafsirnya. Masyaa Allaah hikmah Allah bertebaran di mana-mana :”)

Dalam QS At Taubah: 40 itu dikisahkan Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua. Abu Bakar menyampaikan kekhawatirannya akan keselamtan Rasulullah SAW. Lalu, Rasulullah SAW menenangkan dengan berkata, “La tahzan, innallaha ma’ana. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Masya Allah, di saat seperti hopelessness hadir dalam benak, ada Rasulullah di sini yang menguatkanmu dengan perkataan menyejukkan meski sesungguhnya Rasulullah berbicara kepad Abu Bakar tetapi perkataan ini terabadikan di dalam Quran yang menjadi petunjuk, pelajaran, dan tentunya rahmat Allah bagi kita. Sejak itulah aku selalu berusaha praktikkan memohon dan bercerita kepada ALlah sebelum memulai membuka mushaf di hadapanku. Sebenarnya petunjuk itu sudah ada sejaklama, setiap orang juga pasti merasakan ketnangan setiap mendengar atau membaca Al Quran tetapi kesungguhan atau kepekaan terhdap hikmah itu yang mungkin membutuhkan proses dan perjalanan yang tidak mudah.

Dulu, saat aku masih jahiliyyah, aku yang sangat suka musik ini mencari ketenangan pada musik meski aku juga suka mendengarkan murottal dengan bacaan Quran yang indah mengisi playlist-ku bercampur dengan Quran dalam barisan playlist-ku. Aku sadar ada hal yang aneh dengan hal ini (mencampur musik dan quran) tapi sepertinya aku belum benar-benar seutuhnya memahami.

Namun, Quran berbeda dengan musik. Quran adalaah kalamullaah, yang sudah ter-install dan memang seharusnya ada di dalam hati. Terlepas dari perbedaan pendapat yang muncul, aku belum lama memutuskan untuk berhenti dari aktivitas yang berhubungan dengan musik :” I know this is not easy for me and may be some of you, too. But, trust me, when you need some tranquility, never come to music, it wont give you the tranquility you need.

Seharusnya aku sadar dari kuliah karena aku sudah sangat merasakan manfaatnya murottal dalam perjalananku sendiri. Jadi di fakultasku, ada namanya Perang KRS setiap semester itu untuk menentukan siapa dosen dan mata kuliah yang akan kita ambil. Untuk mendapatkan dosen yang diidamkan, kami harus berebut kursi dengan mantengin portal. Tak jarang ada juga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berjualan kursi dengan tarif tinggi :” Hampir semua orang book warnet dan tempat-tempat yang memberi akses internet super cepat. Aku? Aku pernah sekali mencoba KRS di warnet bersama teman-teman tapi gagal karena aku nggak betah lama-lama di warnet apalagi ketika kebru larut, akhirnya aku pulang duluan hehe. Jadilah aku anak yang paling selo di angkatanku dengan KRS di rumah mengandalkan modem yang lemot. Alhamdulillah aku tetap dapat kelas yang aku inginkan meski tidak selalu mendapat nama dosen yang diimpikan karena baik atau terkenal murah nilai. Mau tahu tipsku bisa KRS dengan tenang dari rumah? Aku sambil dengerin murottal… Aku tahu ini sangat nggak logis bagi anak-anak FEB yang semuanya harus terukur dan by logics. Tapi entahlah sepertinya sedari kecilku hidupku memnag tidka pernah logis, karena ada yang lebih powerful dari sekadar logika manusia, logikanya Allah, keajaiaban dan pertolongan Allah.

Aku pernah gagal KRS jadi dapat dosen yang kata kaka angkatan killer. Namun, kesalahan itu dimulai sejak mindset kita berfikir sepert kata orang, sehingga setiap kejadian dan tindakan beliau terasa seperti momok meski iya mungkin saya nggak cocok dengan tipikal kasar dan suka lempar barang di kelas. Karena nyatanya, beberapa teman berhasil lolos dengan nilai tinggi. Tidak dengan saya karena saya masuk kelas dengan perasaan tidak tenang begitu mengalami prosesnya semakin tidak bisa tenang. Mungkin akan berbeda jika saya tidak menaruh mindset sepert yang dikatakan orang. Maka berhati-hati ya mungkin ada yang masih mahasiswa dan sering ikut kata kaka kelas terkadang kamu tidak perlu mendengarkan kata orang karena sebenarnya hati dosen itu ada di genggaman Allah, ubah mindset yakin sama Allah insya ALlah dimudahkan. Saya mengulang kelas itu di kelas yang alhamdulillah diampu ibu favorit saya meski sekarang sudah mengundurkan diri dari dosen karena ingin mengabdi di rumah. Masya Allah wanita sepert beliau sangat jarang ditemui di fakultas, begitu mempesona saya rindu sekali Bu Wiwin :”(

Namun, aku akui rasa-rasanya waktu itu aku masih menduakan Quran dengan musik dan hiburan pada masa itu. Astaghfirullah. Isna di masa lalu seorang mezzo soprano di concert choir dan beberapa kegiatan yang memang aku memiliki bakat di situ setelah aku rasa-rasakan semakin aku bertumbuh dewasa itu bukan hal yang membuatku bahagia apalagi menenangkan. Ada rasa malu tentu saja, mungkin sedikit demi sedikit dengan kita mendekat kepada Allah kita akan menyadarinya (ini yang kemudian disebuah izzah dan iffah yang terbangun ketika kita mencoba untuk fokus sama Allah). Bahkan, belum lama aku mem-post sebuah puisi dengan iringan instrumen atouna toufule yang mungkin subjektif ya mungkin ada yang merasa biasa aja ada juga yang merasa too much. Namun, setelahnya aku membaca entah dalil atau pesan apa ya yang tentang suara wanita :” berasa ditampar sejadi-jadinya. Langsung seketika cari cara take down puisi itu meski sebeanrnya puisi itu memiliki pesan yang baik hanya latar musik yg too melow membuatnya kurang nyaman untukku sendir, puisi berjudul Muslim Child karya Rukhsana Khan kado dari mama di WW (sila googling ya insya Allah nemu). Jadi, untuk saat ini aku memilih absen dari semua itu ya sahabat dan kawan-kawan semua. Podcastku juga polosan aja murni suaraku. Tumblr masih ada instrument dan Asmaul Husna. Belum tahu cara take down-nya so far yang di tumblr masih okelah bisa kok instrumen ga too much semoga. Tidak ingin berdebat tentang ini hanya ingin mencoba menjaga diri dulu, mohon doanya, sunguh ini tidaklah mudah.

Dan, pada suatu masa aku menemukan ayat ini ketika aku memohon kepada Allah agar dikaruniakan hati yang bersih dan ikhlas.

“Jika Allah melihat ada kebaikan di dalam hatimu, niscaya Allah akan mengganti apa-apa yang diambil darimu dengan yang lebih baik.”

Kalau tidak salah ingat ini ada di QS Al Anfaal tapi aku lupa ayatnya. kalau dilihat dari koteks atau asbabun nuzulnya sebenarnya ini tentang harta rampasan perang, Allah berbicara kepada mereka yang diambil hartanya. Namun, wallahua’lam mungkin Allah memberikan pesan senada ini untuk refleksi bagi kita yang membutuhkannya. Setiap ayat yang Allah tunjukkan atau gerakkan lisan kita adalah rahmat dan semoga kita lebih peka ya terhadap hikmah dan pesan yang Allah ingn sampaikan baik lewat ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah yang bertebaran di alam semesta ini.

Allahummarhamna bil Quran. Allahumma as alukalisaanan shaadiqan wa qalban salima. Allahul musta’an.