Bagaimana kabarmu?

Yuk coba jawablah dengan jujur. Katakanlah pada dirimu sendiri apapun yang kini kau rasakan karena pertanyaan ini tidak untuk berbasa-basi. Tanyakan kondisi hatimu, jiwamu, yang paling tersembunyi di dalam dirimu.

Tak apa-apa jika kau merasa tidak baik-baik saja. Itu artinya, kau tengah menyadari apa yang kau rasakan. Selamat, berikan sedikit apresiasi untukmu, sebab kau telah mengenali dirimu sendiri. Menyadari ada sesuatu yang tak baik-baik saja adalah langkah awal. Semoga apapun yang tengah kau hadapi saat ini, entah sesuatu yang membahagiakan atau menyedihkanmu, semoga sesuatu itu membuatmu merasa tenang bukan karena besar kecilnya ia, tetapi karena engkau mengembalikan segala yang kau rasakan kepada Ia yang menganugerahkan segala rasa yang tengah kau rasakan. Karena dengannya, kau telah berpegang kepada sesuatu yang lebih agung, sesuatu yang hakiki, Yaa Dzal Jalali wal Ikram.

Belakangan ini aku sedang mengambil beberapa kursus jarak jauh tentang Wellbeing and Mindfulness. Ini juga adalah satu dari tujuan Sustainable Development Goals. Oya, apakah mindfulness? Mindfulness secara ringkas dapat dimaknai sebagai kualitas kesadaran akan sesuatu, kondisi mental yang diperoleh karena berfokus pada kesadaran pada momen saat ini, dengan tetap menerima perasaan, pikiran, dan segala yang menggelayuti diri dengan tenang.

Mindfulness sendiri tengah berkembang di barat karena kursus ini juga aku ambil di universitas di luar. Namun, aku baru menyadari bahwa mindfulness ini sangat erat dengan konsep Islam seperti sebuah adopsi nilai Islam. Islam mengajarkan kita untuk bermuhasabah. Islam mengajarkan kita untuk menghisab diri sebelum menghisab orang lain. Islam menanamkan ibadah secara tuma’ninah, sadar atau tidak sadar ini adalah sebuah praktik yang sangat indah, penerapan dari mindfulness.

Dalam konsep iman, islam, dan ihsan sejatinya ada keterkaitan yang bermuara pada Allah sebagai bentuk/praktik kita yang beriringan dengan konsep mindfulness. Keyakinan yang terwujud dalam ibadah yang disertai perasaan selalu diawasi Allah sesungguhnya adalah mindfulness. Kita memang tidak bisa melihat Allah, tapi tingkatan tertinggi, ihsan, adalah kita merasakan bahwa Allah melihat kita. Dalam Islam, ketakwaan adalah derajat yang membedakan manusia di hadapan Allah. Konsep takwa ini adalah sebuah tingkatan yang dicapai seseorang yang sesungguhnya berkaitan dengan konsep mindfulness yang tengah berkembang dalam masyarakat modern.

Lalu, kuteringat pada sebuah materi pembelajaran tauhid untuk anak-anak yang kami siapkan kala itu. Aku bertanya kepada Ustad Maqbul dan Ustad Bastoh yang kala itu membekali kami. Bagaimana metode terbaik menanamkan tauhid kepada anak? Bagaimana mengenalkan Allah yang dapat dipahami anak-anak padahal anak-anak usia dini sangat bergantung pada hal-hal konkrit? Lalu, Ustad Maqbul dan Ustad Bastoh menjelaskan bahwa untuk menanamkan konsep tauhid pada anak dibutuhkan pendekatan yang dekat dengan mereka maksudnya penjelasan bahwa Allah itu ada tetapi kita tidak bisa melihatnya. Allah bisa melihat kita. Allah ada di langit (dan ternyata ada anak yang sudah paham arasy masyaAllah). Kita bisa melihat Allah jika kelak kita masuk surga.

Mana buktinya Allah itu ada? Angkat tanganmu, hadapkan telapak tanganmu ke mulut lalu hembuskan pada telapak tanganmu. Adakah kau rasakan angin mengalir di telapak tanganmu? Tapi apakah kau bisa melihatnya? Begitulah Allah, kita tak mampu melihatnya tapi kita bisa merasakannya melalui tanda-tanda kebesaran-Nya segala nikmat yang kita rasakan. Metode ini ternyata setelah kupelajari lebih lanjut adalah metode pembelajaran anak usia dini dengan pendekatan analogi, yakni menjelaskan suatu konsep dengan sesuatu hal yang tidak berkaitan tetapi familiar bagi anak. Pendekatan konteks kurang bisa diterapkan kepada anak usia dini untuk menyerap hal-hal abstrak atau hal yang tidak lazim ditemui dalam kesahariannya sehingga dibutuhkan analogi yang meskipun tidak berkaitan langsung tetapi dapat ditangkap maksudnya oleh si anak. Hal ini juga berlaku ketika kita menjelaskan konsep tata surya, lambang identitas, dan konsep-konsep abstrak bagi usia anak. Nah ternyata, mindfulness itu sangat dekat dengan jiwa anak. Ingat baik-baik bagaimana ketika masa kanak-kanak kita tidak pernah khawatir tentang masa depan, tidak punya beban (relatively) karena anak-anak masih polos dan mereka hidup pada masa saat ini (living in the moment). Ternyata, guru terbaik dalam penerapan mindfulness adalah anak-anak. Anak-anak pada umumnya selalu optimis dan menikmati detik ini yang mereka alami.

Pada akhirnya mindfulness bermuara kepada tawakkal kepada Allah sebab kita menyadari ada kekuatan di luar diri kita, ada yang menggenggam diri kita dan semua yang ada di sekeliling kita, being aware of Allah, being mindful of Allah. Kesadaran inilah yang semoga memudahkan kita untuk mengembalikan segala urusan kepada Allah. La hawla wa la quwwata illa billah.

Do not carry the worries of this life because this is for Allah. And do not carry the worries of sustenance because it is from Allah. And do not carry the anxiety for the future because it is in the Hands of Allah. Carry one thing: how to please Allah. Because if you please Him, He pleases you, fulfils you and enriches you.

(Ibnu Qayyim)

Masya Allah, sebenarnya tulisan ini terinspirasi juga dari sebuah ayat yang aku baca hari ini. Yang setelah aku renungkan, ini juga sesungguhnya berkaitan dengan mindfulness, being mindful of Allah, being aware of Allah. Hanya dengan keyakinanan pada Allah, bergantung kepada Allah semata, yakin kepada janji Allah yang nyata, dan mengembalikan segalanya kepada Allah. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang disebutkan dan dijanjikan Allah dalam ayat ini. Aamiin Yaa Mujiibassailin :”)

Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?

(QS An-Nisa: 22)

Note:
Beberapa hari kemarin merapikan dokumen dan membuka ulang kumpulan doa yang teman-teman titip ke isna tahun lalu. Masya Allah beberapa doa teman telah diijabah, bahkan ada yang detail dan benar sekali dikasih seperti doanya. Masya Allah tabarakallah.

Wahai Allah, sungguh aku tidak pernah kecewa dalam bermohon kepada-Mu.

Terus aku iseng buka lagi link kado doa yang aku buat: http://bit.ly/KadoDoadiTanahSuci

Menentramkan sekali ya melihat air sungai mengalir dalam link gdocs itu. Dan di banyak gambaran tentang surga sering disertakan air sungai yang mengalir. Waktu itu aku memilih desain itu sebagai gambaran bahwa doaku mengalir untuk kalian kawan-kawan sebagaimana air sungai yang akan bermuara pada suatu titik, pada saatnya doa kawan-kawan akan bertemu dengan ketetapan terbaik Allah insya Allah. Semoga Allah perkenankan.