Kemarin adalah hari panjang. Dalam hati ingin tetap di rumah tapi bismillah semoga setiap langkah ini menggugurkan dosa dan menjadi syafaat kelak bahwa langkah ini untuk-Mu ya Rabb dan untuk kedua orang tuaku sebab mungkin aku belum bisa membangga bahagiakan mereka di dunia sehingga perjalanan ini adalah salah satu caraku membahagiakan mereka jika bukan di dunia yang sementara ini semoga Engkau berkenan kelak menghadiahkan mereka, aamiin.

Sebenarnya stay-at-home ini sangat cocok buatku meski aku pun menikmati perjalanan, mengamati dari balik jendela kereta, merangkul realita tentang kehidupan jalanan, menyapa kucing liar, menyapa ibu-ibu renta yang mengais di tepian kerumunan. Namun, fitrahnya kita merasa tenang ketika di dalam rumah. Sejak kuliah-lulus, aku suka freelance nulis yang semua dari rumah (mulai dari editing, translator, sampai research) tapi memang freelance bukan hal yang lazim di keluargaku. Oleh karenanya, orang tua yang berharap yang terbaik sering kali mempertanyakan apa yang sebenarnya kita kerjakan di rumah padahal ya banyak mengulik beragam jurnal, tulisan, dan artikel tetapi memang kala itu work-from home belum lah lazim. Jadi wajar jika orang tua mempertanyakan dan menginginkan kita punya kejelasan (pragmatis dan tipikal orang tua yang mengukur kemapanan dengan perspektif manusiaa) sampailah aku merantau tersebab hal itu. Alhamdulillah Allah juga kasih kekuatan sampai bisa menemukan jalan ini dan tentunya melalui masa-masa berpasrah dan bermohon agar keputusn ini dapat ridha Allah dan orang tua. Alhamdulillah ‘ala kulli hal perjalananku ini membuka mata hatiku dan orang-orang terdekatku bahwa jika kita yakin pada Allah berusaha mendekati-Nya, Allah akan bukakan jalan. Semoga Allah selalu limpahkan penjagaan dan petunjuk dalam menghadapi setiap ujian kehidupan ini Aamiin.

Alhamdulillah hikmah dari pandemi membuka mata banyak orang terutama mengembalikan kita kepada fitrah, kembali ke rumah. Ramadhan kemarin adalah Ramadhan paling menenangkan, waktu terasa lebih under-control, ibadah di rumah terasa lebih berkesan meski kadang kangen juga sih suasana masjid. Ada kalanya berharap ini terjadi beberapa tahun lalu ketika tuntutan bekerja kantoran itu dibebankan kepadaku yang baru lulus. Dari dulu aku selalu bertanya, kenapa sih harus kerja kantoran tetapi niatku ya itu ikutin aja mau mereka, tak ada pilihan lain. Tak pernah ada dalam plan hidupku merantau ke Jakarta.

Namun, skenario Allah adalah yang terbaik. Jika bukan karena perjalanan panjang ini melalui gelap dan duka yang adalah ujian atas iman (Allah menguji iman kita dengan salah satunya rasa takut), mungkin tanpa melalui masa kritis ini aku tak akan pernah menyadari nikmatnya berkumpul dengan orang soleh, nikmatnya dalam dekapan Al Quran, nikmatnya memperbaiki bacaan Quran, nikmatnya menyerahkan segala urusan kepada Allah, nikmatnya bergantung hanya kepada Allah, nikmatnya menyendiri mengadu dan menangis di hadapan Allah tersebab apabila tidak melalui semua ujian ini mungkin aku justru tidak menemukan jalan pulang. Dan seketika aku memohon Allah bukakan jalan misi kehidupanku yang membuatku merasa tenang dan dekat akan ridha Nya, aku mengubah prioritas hidupku awalnya sembunyi-sembunyi jujur belum siap dengan reaksi orang tua, alhamdulillah perlahan karena baiknya Allah berkenan menggerakkan hati ibu bapak untuk tak lagi menilai kesuksesan pada hal hal materi, untuk tak lagi menilai manusia dari yang terlihat saja, dan ya sedikit demi sedikit menerima keputusan keputusan di luar nalar ini (dulu orang tuaku sangat anti pada acara ngaji halaqah mungkin mereka hanya sedikit protektif takut aku ikut aliran aneh aneh bahkan dulu aku malah ingin masuk pesantren karena aku sering main ke rumah pondokan teman SD yang orangtuanya kyai dan tinggal di pondok dekat SD-ku tapi niat itu selalu gagal karena memang mereka belum familiar terhadap hal ini).” Hadza min fadhli Rabbi. Terima kasih ya Allah atas dibukanya sedikit demi sedikit jalan ‘pulang’. Bukankah jika Allah menginginkan kebaikan pada diri seseorang Ia akan memberikan pemahaman terhadap deen ini, dan apabila kita memperoleh hikmah sesungguhnya itu adalah karunia yang amat besar dari kasih sayang Allah. Semoga Allah jaga selalu :”)

Kemarin aku sudah ke sekolah lagi untuk video tahun ajaran baru, syuting ala ala begini sudah lama tak kulakukan sejak lulus kuliah. Dulu sempat terlibat juga production dan voice over untuk beberapa konten tapi rasanya sudah sangat lama. Ya begitulah pembelajaran jarak jauh masih diterapkan di TQ. Tapi aku bahagia kemarin rasanya bisa menyapa mereka meski hanya lewat video untuk mengembalikan niat dan motivasi yang sejatinya seperti sebuah reminder kepada diri sendiri. “Jika ingin menjadi ahlul Quran, orang-orang pilihan nan istimewa yang dicintai Allah, tetap semangat membaca, mempelajari, menghafalkan, dan mengamalkan Al Quran ya.” Jadi, pesan ini jleb sesungguhnya ke diri sendiri. Nah, beberapa waktu lalu temanku Aeesha (South African yang berdomisili di Saudi) yang kami ketemu hanya online berkat Qarimubashir akhirnha kami punya grup akhwat lintas negara gitu masya Allah kadang Allah skenarionya ada-aja sih, dia share tentang Ustaha Farhia Yahya dan ternyata beliau juga mengisi di Healthy Muslimah Summit kemarin, mashaa Allaah. Then, this isn’t coincidence. I found this message from her. Somehow, adakalanya berharap kesadaran dan hidayah ini turun kepadaku sejak kecil atau dari dulu :”) Namun, Allah is the best planner right, dan yang terpenting adalah melangkah kepada kebaikan meski usia tak lagi muda karena yang terpenting hati dan jiwa kita tetap muda (ini mah menghibur diri aja). Like she said here, go forward. Kalau bukan karena rahmat Allah, mungkin Allah nggak kasih kesempatan kita di dunia bertaubat kepada-Nya.. Selagi Allah masih kasih kesempatan jantung berdetak hingga detik ini, semoga Allah ridha dan terus membuka jalan kembali untuk kita ‘pulang’ dengan selamat. Aamiin.

I really love this beautiful piece of writing. I find it so enlightening my heart. I hope you too. Jazakillah khayran Ustadha Farhia Yahya for writing this reflective journey. May Allah guide us all the way in this journey. Aamiin.

The Hafidh’s Journey, Walking with Angels

Ustadha Farhia Yahya from Jannah Institute

Memorising the Qur’an is not just about memorising the words of Allah `azza wa jall. No. It’s a lot more than that. By understanding the meanings and by making a sincere move to truly live these words, you’ll come to see that it’s actually a magnificent journey. It’s a journey that takes you through paths you never thought you’d ever tread. A breath-taking trip that will throw you into a sea of knowledge, cast you under the shade of guidance, ascend you to lofty clouds, and bring you back to the harsh realities of life – but as a hakim (wise one).

It will take you through paradigm shifts, open your eyes to the unseen and the unheard, it will challenge you, test your limits, break you down and then rebuild you from new. It will teach you what patience really means, what endurance is, what reliance tastes like, where sincerity comes from, what it means to believe in yourself and most importantly, it will teach you that your success in life and this unpredictable path truly comes from Allah in accordance to who you are, who you want to be, and the level of your faith & driving force.It is a journey designed so specifically for you, so unique to you. Don’t run lest you stumble, don’t dally lest you miss the signs, and don’t stop lest the gale winds throw you off. Days and nights will never be the same again. You will struggle with yourself and others, you will feel pains that only Allah knows of, but the sweet taste in your mouth will never let you give up. There will be dashed hopes, failed attempts, and you might miss the train more than once, but the ignited flame of passion within you, will not let you be, so you carry on.

You will be tested and taught your boundaries not as a punishment but as the greatest act of kindness you will ever witness: being shown that your barriers are just that; your barriers. And not Allah’s. He will truly show you your strengths and increase them for you, show you your weaknesses and help you overcome them. He will make sure that you witness all the battlefields known to the Son of Adam; you will battle forces from Shaytan, forces from your surroundings, forces from your emotions, and you will battle the greatest force to reckon with: your mind and soul. Allah will let you fight in these plains, but He will make sure that you not only win the battle, but that you win the entire war.

As you endure and develop grip on this path you will start to feel physically, mentally, and spiritually stronger. You breathe on a deeper level, you see further than you did before, your heart captures what it could not before, and it dawns on you that you are emerging as a completely different person. Your mind is alarmingly clearer, your knowledge more vast, and your ability to understand and comprehend is more than you thought. The blessings in your life don’t stop coming, you see the responses to your du’a, you feel the secure presence and serenity of Allah in your life, you are continuously being taught and continuously improving and the signs all seem to point in one direction: Go forward.

As you arrive in the end, you arrive as a musafir (traveller) arrives home, as a hero returns from the front line, as a beloved comes back home. You arrive with the greatest smile on your face, and a radiant glow in your heart. You look back and see that you’ve crossed over a realm and a world you didn’t know existed. As an enlightened believer you emerge walking with light upon a lighted path… Your name is the same, but you? No, you will never be the same. What just took place is a transformation like no other; promised to all who decide to take this route. Don’t leave this world without treading this glorious path. Don’t leave without memorising, learning, rather living this Qur’an. Angels align with you as your brothers, and Allah is guiding you back to Him for rewards that no eye has seen, no ear has heard of and no heart of yours ever thought possible. Wa billahi tawfiq.