Orang yang berilmu selalu menyuruh berdzikir untuk tafakur dan menyuruh tafakur untuk berdzikir, menyuruh hati untuk berbicara hingga hati pun berbicara. Jika hati itu memiliki pendengaran dan penglihatan, ia mengucapkan ilmu dan meninggalkan hikmah. (Hasan Bashri)

Beberapa waktu lalu, seorang kawan lama memberikan pesan singkat yang agak berat tentang bagaimana menulis.

Sesungguhnya saya masih pemula dan pembelajar dalam menulis ya. Jika dikata sudah berkecimpung lama mah ya masih sangat sedikit ilmunya. Bismillah semoga tulisan ini bisa sedikit berbagai tentang bagaimana menulis… Kita sama-sama belajar ya, semoga kita dimudahkan untuk menuliskan kebaikan dan hikmah bagi semesta 🙂

  1. Niat

Yup. Innamal a’malu binniat. Sesungguhnya amalan itu sesuai dengan niatnya. Niat yang kuat tentu akan menguatkan semangat kita ketika kehilangan ruh menulis. Kembalikan kepada Allah niatkan menulis untuk kebaikan dan cobalah temukan tujuan-tujuan menulis. Tujuan bolehlah sederhana misalkan aku menulis untuk belajar menulis, aku menulis untuk menuangkan apa yang aku simpan dalam hati dan pikiranku, aku menulis untuk berbagi kebaikan, aku menulis untuk….. Semisal menulis esai untuk lomba dll tentu saja boleh tetapi ingatlah untuk selalu melibatkan Allah dalam tulisan kita agar tulisan kita juga menjadi kebaikan yang terus mengalir. Ini nggak mudah sih dan abstrak sungguh tapi insyaAllah sedikit demi sedikit kita perbaiki niat kita ini agar lebih long-term bukan tujuan yang semu, sehingga kita tak mudah putus asa ataupun kecewa di tengah jalan nantinya karena banyak sekali ujiannya hehehe curcol.

2. Membaca

Bapak Mahfud Sholihin, mahaguru Akuntansi yang memberi banyak inspirasi dalam hal akademis dan menulis mengatakan, apa yang kita hasilkan/keluarkan adalah buah dari apa yang kita masukkan dalam diri kita. Jadi, memang benar we are what we read. Apa yang kita baca menjadi nutrisi jiwa yang kemudian akan menjadi amunisi dalam menulis. Dengan membaca kita juga belajar dan mengenal gaya menulis berbagai penulis. Dengan membaca kita pun memperkaya kosa kata dan wawasan kita. Bahkan, dengan itu mungkin kita bisa menemukan ide menulis. Jadi, kalau mau menulis tetapi tidak suka membaca, semoga dengan melihat manfaatnya membaca dapat mendorong kita semangat membaca. Tantangan usia dan ujian di pekerjaan dan manajemen waktu tentu menjadi penghalang untuk membaca. Capek gitu bawaannya. Paham kok I can relate. Yang aku lakukan adalah aku coba untuk menyisihkan sedikit waktu akhir pekanku at least untuk melanjutkan membaca di luar pekerjaanku. Oya, kalaupun sekarang era medsos coba juga untuk follow tulisan berbobot alih alih yang sia-sia. Terus aku punya mama angkat selama pertukaran pelajar yang suka membaca, kami biasa membaca dongeng sebelum tidur, mama juga suka membaca di kasur dengan bantal dibedirikan jadi posisi kita duduk sambil selonjoran di kasur ehehe. Itu pewe banget sih. Coba untuk kasih me time dengan membaca. I know it must be hard kalau kita sibuk apalagi kalau yang lagi deadline macam-macam atau udah terlalu lelah sama kehidupan, you know sometimes reading does heal :”)

3. Mengikat ide

Untuk menulis butuh ide dong. Sering banget buntu mau nulis apakah? Iya sama hehehe.

Hmmm yang kulakukan adalah menjadi observer, jadi kalau ide bisa dari buku yang dibaca. Ide juga bisa dari membaca sekitar. Aku suka naik bis atau kereta di mana aku bertemu orang baru kemudian aku bisa mengumpulkan cerita atau hikmah menarik dari pengalaman itu. Me-refresh pikiran juga. Aku menemukan ide ketika tetiba kebangun tengah malam, tak bisa tidur. Aku menemukan ide ketika berjalan di tengah keramaian dan pikiranku selalu terbang liar ahaha. Lalu apa yang harus dilakukan, ikat idenya jangan biarkan lepas. Hmm susah juga kalau lagi di jalan dan kondisinya ngga bisa menulis nyaman. Baiklah, coba buka hp ada notes kan, coba bicara sama diri sendiri inget inget aja kepikiran aja terus sampai rumah sampai ngga bisa diem. Aku gitu sih kalau nemu yang excites me alot, i cant stop thinking about it, until I put it into words. Entah kutulis di sticky notes, buku harian, atau random di mana. Jangan dicontoh ini mah. Siapkan satu notes untuk mengikat ide biar ga bingung nantinya nyarinya.

4. Tulislah

Practice makes perfect. True. Tulis saja dulu ya. Apapun yang ingin dituliskan yang membuatmu plong dululah. Misalnya, bisa tulis yang simpel di caption instagram misalnya ehhee, atau blog. Kalau tulisan akademis memang butuh banyak di-rethink atau didiskusikan ya.. Tapi itu tidak akan terwujud tanpa mulai menulisnya. Aku sebenarnya orang yang lebih gampang nulis ngalir yang kreatif bukan yang baku gitu atau logical/critical writing. Tapi, meski begitu karena mungkin efek lingkungan pendidikan dan komunitas2 yang mendukung sedikit demi sedikit terasah. Jadi, selain mencoba menulis mungkin bisa dikembangkan dengan mencoba diskusi atau menemukan lingkungan yang membantu berkembang, entah teman diskusi atau just let others read and give feedback. I know feedback hurts sometimes, tapi bisa dimulai dengan share ke orang yang kamu percaya and knows you well, then trust them that they will help you 🙂

Tentang penolakan, I have been thru this. Aku suka nulis memang dari kecil. Bahkan, bapak ibu dulu underestimate sama hobiku ini apalagi pas lulus SMA kepikiran mau masuk Sastra ngikut Prof Sapardi Djoko Damono, alumni FIB UGM seorang sastrawan, penulis, dan guru besar. Dengan skeptisnya, bapak bilang 1 dari beribu orang yang bisa begitu. Patah hati banget hehe. Alhasil, saya gagal masuk Sastra. Tapi alhamdulillah, dengan gagalnya saya jadi belajar banyak hal dan memang anaknya suka angka juga jadi ya begitulah, dan akhirnya mensyukuri bahwa cukup jadi diri saya sendiri tak perlu jadi orang lain.

Bismillah semangat ya semoga dimudahkan dalam setiap ikhtiarnya.