All grown-ups were once children.. But only few of them remember it… What essential is invisible to the eye. It is only with the heart one can see things rightly. (Antoine de Exupery)

Apapun yang terjadi, teruslah berlari mengejar mimpi. Seberat apapun langkahmu, jadikanlah Tuhan, satu yang kau tuju. Sekuat ombak di lautan. Sekeras karang di lautan. (Senandung Mimpi)

No worries, all is well. (Mama, whenever I fall)

I’m walking on a road of time, blown by a freezing breeze. Here, I’m searching for a ride of bliss. An eternity in life. (Me, 2010)

Sebenarnya saya baru saja membuka catatan coretan apapun tentang anak-anak. Pasalnya, saya sudah lama tidak menulis kisah flash fiction, cerpen, maupun cerita anak-anak. Padahal, ide membuka cerita inspiratif untuk anak-anak saya sendiri yang mengusulkan. Ternyata susah juga ya. Apalagi jika diri sendiri sedang krisis motivasi.

Sebenarnya banyak tulisan lampau yang sangat relevan tentang anak-anak. Dulu saya suka nulis cerpen, waktu SMP saya sempat mengumpulkan untuk Porseni. Judulnya apa ya, absurd, something with Langit Bintang tetap Bersinar apa gitu tentang gempa. Pas SMA pun saya masih suka nulis tentang anak-anak. Ya, Dusun Mimpi. Di luar tulisan itu adalah tulisan-tulisan random. Hiks. Jadi saya harus nulis apa ya untuk adik-adik? Baiklah saya akan mulai menulis.

Dear adik-adikku,
Masa kanak-kanak akan menjadi masa emas yang kau rindukan kelak di kemudian hari. Pastikan untuk belajar pada banyak hal. Ah terdengar klise. Jadi saya nulis apa ya buat mereka? Sejujurnya saya mau bilang, setiap orang dewasa akan bahagia melihat anak-anak karena mereka seperti melihat dirinya sendiri, seperti melihat binar-binar mimpi yang mungkin meredup bersinar kembali.

Ah sudah dululah. Menulis random. Literasi adalah apa yang membuat saya sampai di sini. Anak-anak adalah harapan, impian, dan masa depan. Oleh karenanya, setiap anak berhak untuk mendapatkan akses literasi. Dan, bahagia sekali bermimpi dan berkreasi bersama teman-teman Literacy Outreach Initiative (Love Project ID). Belajar dari adik-adik difabel yang begitu antusias belajar literasi. Putri yang bersuara emas, Aida yang suka mendongeng, Kuskus yang suka olahraga, Shofi yang kalem tapi saya tahu di dalam hatinya begitu kuat tekad, Pak Ahmad yang sungguh bertalenta dan berhati mulia, Bu Ambar bulik yang luar biasa tangguh.

Cuplikan cerita tentang mereka bisa dicek lini masa fanpage @LoveProjectID atau instagram @loveprojectid.

Oya, mari menulis untuk “Untaian Kata Inspirasi Anak Negeri” melalui link bit.ly/inspiratoranaknegeri dan merekam audio untuk pembuatan audio book massal yang akan didistribusikan ke SLB Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) dalam “Nge-Audio Yuk!” dengan mengisi link berikut bit.ly/ngeaudioyuk

Terakhir, dalam post random ini, ada sebuah refleksi diri. Ketika saya menyaksikan mereka bermain peran dan bercerita tentang diri mereka, saya merasakan kesejukan dalam batin saya. Bagi saya, itu adalah soul remedy yang efektif. Tidakkah kita iri pada mereka, anak-anak yang terlahir atau kehilangan penglihatannya, kelak mereka akan terbebas dari siksa atas persaksian mata. Begitulah. Berinteraksi dengan mereka membuat saya belajar juga mereka sangat pandai membaca, membaca dengan mata hati. Bukankah kita yang punya mata sempurna (well, mata saya minus banyak sebenarnya), justru seringkali tidak memiliki mata hati?

Sekian, terima kasih, saya akan melanjutkan mencari inspirasi literasi. Bukankah setiap niat baik akan membuka jalan kebaikan? 🙂