Tags

“Apa programmu setelah ini?” Suara bapak pada suatu sore, sehari setelah saya pulang ke rumah setelah perjalanan panjang dengan persiapan yang serba mepet itu. Mendengar pertanyaan bapak, saya hanya terdiam. Takut salah menjawab. Dan sebenarnya ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Padahal sesungguhnya di kepala ini banyak sekali rencana, ketakutan, dan keraguan yang entah bagaimana bercampur menjadi satu.

Maaf ya, Pak, Bu, isna tak bisa menjanjikan apapun. Ia hanya bisa melangkah pada apa-apa yang ia yakini baik. Dan setiap melangkah, bukankah isna selalu meminta pandangan, keikhlasan, dan keridhaan kalian? Yah meskipun isna memang sungguh anak yang keras kepala ya hehe. Dan kadang bingung mengungkapkan semua yang ada di dalam sini kepada kalian, orang yang seharusnya paling tahu. Tapi ketahuilah, ia bukan tidak punya plan. Ia hanya sedang berhati-hati memilih jalan dan meminta petunjuk. Jika ia banyak diam bukan berarti tidak mau bercerita, entah ia sedang berpikir, menguatkan diri sendiri, mempertimbangkan banyak hal, atau tidak ingin membuat masalah. Ia sedang berusaha untuk tenang tetapi tidak mudah. Untuk kesekian kalinya isna memohon pengertian.

Tahun lalu, seusai wawancara Japan on Track, ada keraguan yang tiba-tiba datang. Ia ragu apakah sebaiknya program ini ia lanjutkan karena konsekuensinya jika ia lolos, ia akan pergi magang dan target sidang itu pun harus mundur (lagi). Ia sudah hampir mau mundur mumpung belum pengumuman, sehingga sah sah saja jika mundur, dan bisa segera dicarikan kandidat lain. Namun, ibu justru mengatakan, kenapa mundur, kalau memang rejeki jangan ditolak. Lalu segala keajaiban terus terjadi setelahnya. Kemudian saat memilih wisuda atau ke Jepang.. Bahkan isna bertanya makna wisuda, seberapa penting kah wisuda untuk bapak dan ibu karena ia tahu selama ini ibu selalu bertanya kapan isna akan wisuda. Lalu kalian bertanya tentang makna wisuda di mata ini. Akhirnya isna bisa yakin pada pilihan karena bapak ibu ikhlas dan mendukung agar isna tidak berhenti. Ketika persiapan mendadak, visa yang di ujung tanduk, dan hal remeh temeh lainnya, isna akhirnya bisa berangkat. Sungguh keajaiban ini datang dari Tuhan dan dari doa kalian. Semoga kalian tetap bahagia. Meskipun banyak harapan yang tak terkabulkan. Bukankah janji Allah itu pasti? Kuatkanlah, teguhkanlah, tunjukkanlah.

Sepulang dari perjalanan itu, ada kehampaan yang merasuki. Satu pekan yang berat. Rasanya stagnan. Mengikuti panggilan hati yang mungkin telah mengecewakan banyak orang tidak selamanya mulus. Salah satu hal terberat adalah mengatakan kebenaran yang pahit, mengatakan apa yang dikatakan hati nurani di hadapan mereka yang telah bekerja keras untuk ini, mengatakan kepada bapak ibu yang mungkin berharap banyak.

Sepekan di rumah berlalu. Sebuah pesan pun masuk. “Isna, sudah sampai di Jogja?” Pesan yang sama seperti ketika saya pulang magang, dari beliau dosen pembimbing yang sudah seperti guru, ibu, kakak, dan teman. Saya terharu membayangkan masa-masa skripsi. Ketika temu menjadi sungguh berarti. Ketika menunggu memberi makna. Tenang, ini bukan skripsi. Ya, ayo kita kejar dan selesaikan ini. Seperti roda yang berputar, kita akan menemui kondisi yang terus berubah. Dan hanya hati nurani yang bisa menjawab dengan tepat bagaimana menghadapinya. Semoga Ia selalu membuka jernih hati nurani. “Isna tunggu ya Mbak sambil pelan-pelan belajar lagi.” Terima kasih Tuhan atas anugerah yang tiada henti. Kali ini lagi dan lagi, tolong percayalah. Bukankah janji Allah itu pasti? Tinggal bagaimana menjaga keyakinan dan sebuah niat baik.

“Jika kamu bersyukur, akan Aku tambah nikmatmu…”

“Ingatlah aku, maka Aku akan mengingatmu….”

“Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu…”

Kemarin demi bertemu Bu Wulan, saya memastikan jadwal mengajar beliau lalu menunggu di depan ruang kantor. Saya sengaja menyesuaikan jadwal mengajar agar beliau tidak repot mencari waktu. Ternyata belum bertemu. Namun, bertemu adik-adik angkatan pun sudah cukup membahagiakan dan memberikan semangat tersendiri. Entahlah terharu, didoakan banyak hal. Mengingatkan tentang Bu Wiwin, ibu yang mengajar dengan begitu mempesona. Apalagi yang tidak membuat terharu selain mengetahui bahwa mereka bahkan yang tak begitu mengenal ternyata begitu tulus mendoakan. Semoga doa dan kebaikan kembali kepada para pendoa.

Kau tahu, di antara nikmat dan kebahagiaan adalah bersama orang-orang yang selalu membawa kedamaian. Meskipun kalian sudah menyebar ke berbagai belahan, terima kasih sudah selalu mengingatkan. Semoga Allah jaga agar kita tak lelah mencari makna-Nya.