Satu per satu manusia pergi. Pergi meninggalkan masa lalu. Mengejar matahari yang terangnya menyinari. Hijrah. Manusia hijrah menuju cahaya. Hingga kelak, suatu ketika, ia pun hijrah kepada-Nya.

Sekilas judul film yang diangkat dari novel legendaris Helvy Tiana Rosa ini menyiratkan kisah melodramatik tentang kepergian seseorang bernama mas Gagah. Penonton yang belum membaca review ataupun buku tersebut mungkin tidak pernah menyangka bahwa kisah ini adalah kisah sederhana antara sepasang kakak dan adik, Gagah dan Gita, yang memberikan pesan mendalam tentang arti perjalanan, pencarian diri, dan makna hijrah.

Film ini berhasil menghadirkan karakter kakak dan adik yang cukup kuat dengan humor segar di antara manuskripnya dan pesan menyentuh di balik kisahnya. Khususnya, Aquino Umar yang memerankan Gita dengan karakter khasnya yang tomboy dan manja, benar-benar menjiwai karakternya. Sebagai seorang yang tak terlahir dengan kakak laki-laki, penulis terhanyut oleh setting dan alur cerita film ini. Penulis pun merasa kisah kedua kakak beradik ini sangat universal. Dengan kesederhanaan yang penuh makna ini, film Ketika Mas Gagah Pergi mampu mengungkapkan keresahan-keresahan diri yang kerap kali muncul dalam proses hijrah, proses perbaikan diri, baik dalam setting keluarga maupun lingkungan lainnya.

Film ini memberikan nilai yang menginspirasi bagi penonton bahwa sebagai khalifah di muka bumi, setiap manusia memiliki perannya masing-masing dalam membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Seorang mahasiswa, preman, pemuda, ayah, ibu, anak, kakak, dan adik, masing-masing memiliki porsinya. Di lingkungan keluarga, di bus-bus kota, di sekolah, di lingkungan preman, di masyarakat, atau di manapun berada setiap diri memiliki arti yang sungguh mulia sekali apabila kita mengambil peran menjadi manusia dengan sebaik-baik akhlak yang membawa manfaat bagi sekitar.

Film ini memiliki keunikan tersendiri dengan crowdfunding dan misi sosial yang sungguh mulia. Hal ini sejalan dengan pesan moral film bahwa Islam hadir sebagai rahmat. Film ini juga unik karena menghadirkan sejumlah talenta baru yang didukung oleh artis papan atas. Theatrical scene yang merupakan keunggulan Helvy Tiana Rosa menjiwai film ini dalam beberapa adegan. Latar tempat, keindahan alam Ternate, serta latar musik yang menghidupkan suasana, mampu menjiwai ruh film ini.

Beberapa feedback yang semoga dapat menjadi sarana perbaikan dalam perkembangan film islami, di antaranya detail yang kurang sehingga beberapa kejadian terasa kurang clear sehingga berdampak pada penokohan tokoh di luar keluarga Gita dan Gagah yang agak kurang, alur maju mundur yang terangkai kurang smooth sehingga peralihan antara scene dengan alur maju mundur ini dapat membingungkan penonton, serta konflik yang kurang mencapai klimaks. Namun, klimaks yang menggantung ini memiliki sisi positif karena penonton akan penasaran dengan kelanjutan cerita film ini yang akan segera tayang dalam Ketika Mas Gagah Pergi 2.

Pada akhirnya, di era seperti ini, film Ketika Mas Gagah Pergi ibarat oase di tengah keringnya tontonan keluarga yang layak, mendidik, dan sarat makna. Semoga film ini memberikan pencerahan bagi kita. Mari dukung film kebaikan dan ikuti lomba review film Ketika Mas Gagah Pergi. 🙂

“Jika kita belum bisa menerima suatu kebenaran, setidaknya kita bisa menghargainya” (Ketika Mas Gagah Pergi).

IMG_20160205_084359

Sebuah catatan kaki,

Nur Isnaini Masyithoh

Tautan dan informasi lebih lanjut:

http://www.kmgpthemovie.com

www.flp.or.id