Mau ngapain Isna habis lulus? Pertanyaan supervisor yang random tetapi sering menyisakan pemikiran tiada henti. Diam sesaat, lalu spontan menjawab. Hmm mau menulis saja .. Nulis apa? Hmm apa ya tapi mungkin fiksi untuk refreshing hehe. Nulis apa ya? Feeling like having trapped in writers block 😮

Menulis ucapan terima kasih saja yang mungkin belum sempat diucapkan kepada setiap orang. Terima kasih. Dan tiada kebaikan sebesar biji zarrah pun yang luput dari Nya. Semoga Allah membalas kebaikan dg kebaikan dan sebaik-baik balasan. #monologditengahhujan

Praise be to Allah for the strength and all the blessings; for guiding me through the opportunities, challenges, obstacles, doubt and fear along the way. The journey to the writing of this research has been quite a long way. Yet, this is a blessing in my little journey of discovery. There are too many names whose motivation, inspiration, suggestion, and guidance have helped me in conducting this study. Thank you for everyone along the way whom I may not be able to mention one by one. May Allah reward your goodness with goodness and the best reward.

Dan… Penghujung Januari mengingatkan saya pada tulisan masa kanak-kanak hehe. Setiap kali membaca tulisan ini nyesek sendiri. Maafkanlah anakmu ini ya Buk :”

Terima kasih Ibu!

Pagi di bulan Januari yang sendu. Awan mendung tergantung di atas langit, menahan keceriaan tahun baru yang baru semalam dirayakan manusia seisi dunia. Aku menyusuri jalanan sepi. Orang-orang tampak enggan beranjak dari selimut ataupun perapian. Tapi aku berjalan menantang kebekuan yang mulai merasuki tulang-tulangku. Kukayuh sepedaku penuh semangat.

Aku menggigil. Suhu di luar kurang dari nol derajat Celcius. Salju tadi malam masih tebal menghampar jalan. Pantas, sangat dingin membekukan, bisikku. Kudengar suara angin menampar-nampar wajahku. Membuatku semakin gerah untuk melawannya. Semangatku pun semakin menyala untuk mencapai tempat tujuanku di ujung jalan sana. Aku akan meneleponmu, ibu. Demi sebuah ucapan sederhana. Cinta sederhana yang kini begitu luar biasa kurasakan. Ibu, aku hanya ingin mengucapkan “selamat ulang tahun” untukmu.

Di ujung Jalan Millbrook ini, di sebuah rumah tua dengan cat yang mulai pudar, keluarga Heidi Dobson tinggal. Keluarga dengan tiga anak perempuan Tionghoa yang diadopsi Heidi. Kesibukan masing-masing anggotanya membuat rumah mereka selalu tampak supersibuk dipenuhi aktivitas harian. Heidi yang selalu sibuk dengan penelitiannya, juga hewan-hewan peliharaan yang tak terhitung banyaknya. Ada tiga ekor anjing, tiga ekor kucing, dua ekor kelinci putih, dua ekor kelinci coklat, tiga ekor hamster, dan seekor iguana. Terutama anjing mereka, Shatelyn adalah yang paling heboh mengitari seisi ruangan.

Aku berdiri di depan kusen pintu. Menatap ragu rumah yang biasa sibuk itu. Agak aneh ketika pagi ini rumah itu begitu sepi. 06.30 memang bukan waktu lazim bagi orang Amerika untuk beraktivitas di akhir pekan, pikirku. Tapi setidaknya, tadi malam mereka menyilakanku berkunjung esok hari untuk menelepon Indonesia. Kuketuk pintu itu berkali-kali. Aku hanya mendengar suara Shatelyn memukul-mukul ekornya di atas lantai. Kemudian berhenti. Kudengar langkahnya mendekat ke pintu. Ya, kini dia benar-benar berada di balik pintu. Apa yang bisa ia lakukan untukku?

Aku duduk termangu di depan pintu. Menatap salju. Membayangkan pagi yang ceria dengan sahutan burung-burung menyambut semburat merah di ufuk timur. Hiasan indah yang menyatu dengan hijaunya sawah yang menghampar. Aku rindu. Merindukan masa-masa itu.

Satu jam berlalu. Aku melangkah gontai. Kembali menyusuri jalan yang belum juga ramai. Ke mana orang seisi kota ini? Masihkah terlelap mimpi? Atau, salju yang telah membuat mereka meringkuk di pembaringan? Dengan selimut tebal yang teramat nyaman, hingga mereka begitu enggan sejengkal pun melangkah keluar? Hatiku bergetar. Mataku telah basah. Pipiku terasa hangat oleh air yang mengalir tiba-tiba. Ini sungguh asing bagiku.

Sebuah catatan yang sudah dua tahun lamanya. Ya, dua tahun sudah berlalu. Semuanya kembali pada normal. Normal yang nisbi. Begitu tak pasti kriteria normal dalam hidup itu sendiri. Bagaimanapun, kini aku kembali bersamanya, meski tak berada dalam peluknya. Kini aku di dekatnya, meski tak selalu berada di sampingnya. Ibu, ingin rasanya aku berlari mendekapmu, menciummu dan mengatakan, “Ibu, aku mencintaimu.” Entah bagaimana, cintamu menyala dan mendekapku tanpa butuh seuntai pun kata. Aku tahu dalam bahasa hatimu ibu, apapun itu, tak cukup kuartikan dan kuartikulasikan hanya dengan “I love you.”

Begitu banyak yang kulewatkan, begitu banyak pula yang kurindukan. Semuanya membuatku malu sebab aku tahu tak pernah cukup aku membuatmu bahagia. Justru begitu banyak aku membuatmu kecewa. Jika dulu susah payah kau lahirkan aku hingga aku sebesar ini, apakah yang kau dapatkan? Hanya kesederhanaan. Hanya keikhlasan.

Ibu.. Setiap waktu kau mengkhawatirkan dan memikirkanku melebihi diriku sendiri. Kau temani, kau jagai, dan kau dekap tubuhku hingga aku pulas terlelap. Namun, kini aku justru merasa bebas dan berkuasa. Dulu, kau gendong aku ke manapun kau pergi. Namun, kini begitu sering aku meninggalkanmu. Hingga aku merasakan betapa jiwaku menyala ketika merasakan pijaran jiwamu yang tak pernah redup untukku. Betapa aku ada karena engkau ada. Betapa aku, betapa aku…

Astaghfirullahal’adziim, ya Allah ampunilah..
Ya Allah, jadikanlah aku anak yang membuat ibu bahagia.
Ya Allah, lindungilah ibu… Allah sayangilah ibu yang telah menyayangi dan membesarkanku… Aamiin…
Hanya milik-Mu, cinta dan kasih yang pantas untuk ibu…

*tulisan jaman kanak-kanak akan tetap terkenang yak. Terima kasih kadonya Januari. Selamat ulang tahun Ibu. Semoga bahagia selalu.