Semoga ini bukanlah tulisan yang hanya mengantarkan seseorang kepada gerbang sarjana dan prosesi wisuda dengan euforia-euforia yang maya.

Setiap kali ibu menanyakan kabar skripsi, ibu selalu mengungkit tentang satu kata yang semakin lama maknanya semakin hambar, wisuda. Dulu, saat masih SD, saya dan kakak seringkali mengambil rapor sendiri. Saat kelulusan SMP, saya yang masih polos dan ambisius, hanya bisa menangis ketika bapak dan ibu tidak hadir pada pengambilan rapor dan sebenarnya saat itu saya kecewa pada diri sendiri karena performance ujian akhir saya turun. Tidak optimalnya performance saat ujian nasional disebabkan oleh sakit. Namun kini, saya belajar bahwa ada sesuatu yang lebih bermakna dari sebuah kehadiran, yakni doa restu. Dan ada yang lebih bermakna dari piala-piala. Ada yang indah dari ketidaksempurnaan. Ada yang menentramkan dalam setiap keberserahdirian atas rencana dan ketetapan Tuhan.  Maka ketika ibu berulang kali menanyakan wisuda, saya kerap berkata tolong doakan isna bukan untuk sebuah kemegahan wisuda, tapi kelancaran proses, kelulusan sidang, dan keberkahan ilmu.

Apabila nanti akhirnya isna tidak bisa menghadiahkan kebahagiaan wisuda karena oleh satu dan lain hal, semoga ibu bapak tetap bahagia. Bukan lewat euforia-euforia. Bukan lewat kemegahan wisuda. Semoga bapak ibu tetap bahagia ya, seperti isna yang sudah belajar makna ini setelah bertahun-tahun menjalani dan merasakannya bahwa perayaan tertinggi atas sebuah pencapaian adalah sebuah kesunyian. Kesunyian dan kesyahduan saat-saat kita mendekat kepada-Nya dalam kepasrahan atas apapun hasil yang Ia berikan.

***

A Dedication

Bismillaahirrohmaanirrohiiim. In the name of Allah; The Entirely Merciful and The Especially Merciful. Praise be to Allah; The Lord of the universe, The Knower of all things. My Lord, increase me in knowledge. Aamiin.

I would love to dedicate this undergraduate thesis to my father and mother—Bapak Kusnaedi and Ibu Ani Surami. Thank you for your genuine love, prayer, wisdom, and guidance. My love and gratitude is to my sister—Mbak ‘Iti’ Nur Fitria Kuswardiani—for the prayer and sisterhood memories. To my little cousin from Riau—Wulan Agustina—thank you for coloring my days in finishing this research. To our big family in Kretek and Batang—especially Simbah Kakung-Simbah Putri Kretek and Almarhum-Almarhumah Simbah Batang—thank you for your love, prayer, and wisdom.

This is also a dedication to my host mother—Laura Reiter and my host sister—Liliana Reiter. Thank you for sharing your inspiration, kind support, sense of humor, and cheerfulness on my journey. To Papa and Jo, Jennifer, Kiran Noor, and the Reiter’s family and friends, thank you for sharing thoughts, dreams, jokes, and truthfulness.

Finally, I hope this research could somehow be a milestone—a little contribution to the education and the development of accounting literature. Last but not least, I hope this research could bring goodness to all readers.

***

It has been nine months ever since I began to write this imperfect writing until the time it has been labeled accepted miraculously on mother’s day, December 22. Nine months is just a perfect time for this ‘little thing’ to be born. Thank you Ms. Putri for the patience and persistence in supervising this writing. It has been a wonderful journey!

***

Terharu dibawain kado. Tau aja isna suka bunga sama buku. Namun, kado-kado yang terindah yang insyaAllah abadi, doa-doa yang hanya dipersaksikan Allah dan malaikat, makasih untuk kado doanya. Kado terindah ialah doa yang diijabah 🙂

20 Januari 2016 in memory, setelah sekian lama tidak menulis blog yang mulai berdebu.