Tags

Dunia kecil ini membentang cakrawala. Dunia mungil yang terlahir dari sebuah jiwa. Ia bercahaya meski sesekali meredup. Kerlipnya bagai bintang-bintang dalam kelam. Dengan pena bertinta jiwa, aku akan melukis sebuah dunia penuh warna. Setitik asa, cinta, dan air mata.

Warna-warni dunia menjadi goresan pena penuh makna sejak aku mengenal sahabat-sahabatku di bangku sekolah dasar. Mereka mengajarkan seni dan persahabatan. Berkirim surat, menulis diari, berpuisi, menyanyi, dan berkreasi di atas panggung kampung adalah masa-masa yang indah.

Kecintaan akan sastra membahana sejak aku suka mendeklamasikan puisi. Aku menyelami keindahannya dengan segala keterbatasan. Aku bukanlah anak yang selalu didongengi sebelum tidur dengan buku cerita penuh warna. Aku juga masih ingat rengekanku agar dibelikan majalah Bobo bekas di sebuah pasar hingga menangis. Ironis. Namun keterbatasanlah pemantik semangatku mengejar mimpi. Itulah dunia kecil yang menginspirasi diri untuk berekspresi, bernyanyi dengan jiwa, dan mengapresiasi hidup dengan penuh cinta.
Sebuah episode baru aku mulai. Satu tahun pengembaraan yang menghidupkan jiwaku seutuhnya. Pengembaraan itu sejatinya buah mimpi dari tulisan-tulisan Muthmainnah dan Andrea Hirata. Sebuah keluarga kecil di kota Walla Walla. Aku, seorang ibu angkat, dan seorang adik angkat yang diadopsi sang bunda. Sebuah keluarga manis dengan latar berbeda, mengajarkan arti cinta dan impian.

Selepas pengembaraan, aku kembali sebagai sosok baru. Betapapun dunia tak mau mengenalku. Tak peduli dengan suara hatiku. Tak mau tahu dunia kecil nan manis yang kusimpan selama ini. Ia tiada henti menyapa, hingga dunia menyabut senyumnya. Adalah restu ibu dan tak ada yang lebih baik dari itu. Aku harus yakin sesuatu yang lebih tinggi aku kejar kini. Agar aku mengelana tanpa batas tanpa lupa berpijak. Hingga mimpi terbang mengangkasa dan jiwa pun memeluknya.

Jiwa tetaplah menyala. Memberi cahaya pada keraguanku. Kan kusemai benih-benih mimpi padamu, hingga tumbuh menjadi pohon penuh inspirasi. Dengan cinta-Mu dan pena bertinta jiwa, aku akan melukis dunia.
***

Biodata Penulis
Nur Isnaini Masyithoh, penulis dengan nama pena Nurisma Najma hanyalah seorang anak perempuan biasa yang dilahirkan di Bantul, 30 Mei 1992. Baru saja menamatkan SMA di SMA N 3 Yogyakarta. Saat ini, ia tengah mempersiapkan kuliah tahun pertamanya dan mengisi waktu di Komunitas Penulis Pelajar Smart Syuhada Yogyakarta. Ia senang membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Ia senang belajar bahasa dan matematika. Ia tertarik masalah pendidikan dan bermimpi memiliki sekolah mimpi. Ia tengah mencoba merangkai masa depan dengan tekad mendalami ilmu akuntansi. Doakan ia bisa meraih cita-citanya, memberi manfaat bagi sesama, sukses dunia-akhirat yaa.. Aamiin.

Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat dalam antologi The Secret of Writing yang diterbitkan Leutika Prio pada akhir 2011. Pertama kali tulisan ini ditulis pada pertengahan tahun 2011 sebagai pengantar ketika ingin mendaftar Forum Lingkar Pena, forum menulis yang sejak di bangku sekolah menengah amat diinginkannya untuk menjadi bagian darinya. Hingga akhirnya kesempatan itu datang. Semua berkas telah dikirimkan. Namun, penulis bahkan tak sanggup melihat pengumuman sebab ia dihadapkan pada dilema. Ketika sang ibu hanya memberinya salah satu pilihan. Dan dia memilih untuk menunda impiannya dan menetap pada apa yang dimilikinya kala itu. Sampai seorang kakak senior bertanya kenapa ia tidak hadir wawancara. Padahal ia tak kuasa melihat hasil apapun yang diperolehnya. Dia telah mengambil pilihan. Bukankah mundur juga pilihan? Mungkin mundur menjadi pilihan agar belajar untuk menghargai hal-hal kecil dan menganggap diri kecil. Dan benarlah, hidup adalah pilihan. Ia tak ingin menyesal. Sebab mimpi itu masih ada. Bukan perihal menjadi bagian dari sesuatu atau menjadi penulis ternama. Mimpi itu masih ada. Untuk berbagi dengan kata yang ditulis dengan jiwa. Dan entah kapan ia akan mewujudkan impian kecilnya. Sebab darinya ia pun belajar impian sejati itu adalah menulis. Dan menulis sudah cukup menjadi obat dan hadiah dalam hidupnya. Menulis sudah cukup membuatnya bahagia. Tak peduli apa dan bagaimana.