The Promise of Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا – 33:9

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

O you who have believed, remember the favor of Allah upon you when armies came to [attack] you and We sent upon them a wind and armies [of angels] you did not see. And ever is Allah, of what you do, Seeing.

إِذْ جَاءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا – 33:10

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.

[Remember] when they came at you from above you and from below you, and when eyes shifted [in fear], and hearts reached the throats and you assumed about Allah [various] assumptions.

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا – 33:11

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.

There the believers were tested and shaken with a severe shaking.

قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا – 33:17

Katakanlah, “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (ketentuan) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.

Say, “Who is it that can protect you from Allah if He intends for you an ill or intends for you a mercy?” And they will not find for themselves besides Allah any protector or any helper.

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا – 33:23

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),

Among the believers are men true to what they promised Allah . Among them is he who has fulfilled his vow [to the death], and among them is he who awaits [his chance]. And they did not alter [the terms of their commitment] by any alteration –

لِّيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا – 33:24

That Allah may reward the truthful for their truth and punish the hypocrites if He wills or accept their repentance. Indeed, Allah is ever Forgiving and Merciful.

agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

QS. Al-Ahzab20 Juli 2020

Hujan Puisi: Sebuah Refleksi

Adakah hujan hari ini
setitik rindu syahdu hujan bulan Juni
mengalir rintik hujan yang kian deras
seperti sajakmu kini menghujani relung hati

Adakah hujan hari ini
bayang-bayang Hujan Bulan Juni
menghujan puisi nan sunyi
serasa hujan bulan Juli
di sanubari jejakmu abadi

Adakah hujan hari ini
bilamana sajak-sajakmu mengalir
di beranda media, lini masa, dan jiwa sanubari
Hujan Bulan Juni telah pergi
dalam butir hujan puisi yang turun di bulan Juli
saripatinya, minyak aksirinya, diserapnya
akar tanah mewangi

Pujangga negeri telah pergi
bersama lirik puisi yang terkubur abadi
dalam sanubari ibu pertiwi

Nurisma Najma, 2020

Dan puisiku, tak pernah sampai kepadanya di alam ini. Ada sebuah puisi di dalam buku Antologi Harmoni Jiwa dan Hati yang sejatinya adalah tulisan di masa muda seorang anak yang ingin mengikuti jejak sang pujangga. Puisi itu berjudul Aku Ingin Menjadi Sapardi Djoko Suwardjono. Tulisan itu sesungguhnya berisi ungkapan hati seorang anak ketika ia mengungkapkan apa yang ditinggalkannya dalam hidupnya, ia ingin menjadi pujangga seperti Sapardi. Sang ayah berkata sambil tertawa, “Satu dari berapa ribu orang yang bisa begitu?” Terima kasih Bapak karena sudah pernah meragukanku, berkatmu aku tak lagi mengejar fana. Karena tak perlu menjadi Prof. Sapardi tak perlu menjadi Prof. Suwardjana, cukuplah aku adalah aku. Aku yang puisi. Aku yang filosofi. Aku yang suka bermain angka. Aku yang ingin berhati samudera. Perjalanan hidup ini mengajarkan diri bagaimana menjadi diri sendiri meski perlu berkaca pada mahaguru nan abadi.

Tahun ini terlalu banyak kepergian. Terlalu banyak sosok yang bahkan tak dikenal menyisakan renung dan refleksi. Terlalu banyak kisah indah dalam setiap akhir kehidupan seseorang yang bahkan tak dikenal. Pahlawan-pahlawan tak dikenal yang agung nan mulia. Betapa indah mereka yang pergi dalam keabadian. Keabadian karyanya, kebaikannya, semangatnya, jiwanya, pemikirannya, ideologinya, dan misi hidupnya. Mulai dari kisah Profesor bidang epidemiologi yang memikirkan jalan keluar negeri tetapi meninggal lantaran infeksi covid-19, para garda terdepan pahlawan kesehatan yang berguguran, seorang bapak renta muslim di Turki yang meninggal dalam dekapan Quran, seorang ayah dengan anak-anak keluarga bintang Al-Quran, para ulama yang ilmunya abadi, para pejuang kemanusiaan, para pujangga dan pemahat karya.

Ada satu hal unik dari kejadian belakangan ini tentang pertemuan dan hikmah berbagai kejadian, tentang ruh-ruh yang beresonansi. Sepertinya aku paham mengapa tak perlu raga bertemu dan berkenalan untuk bisa merasakan resonansi ruh. Sekalipun ini terdengar aneh dan bodoh terbukti ada yang semacam menertawakan keyakinan ini padahal ia tak sedang bercanda meski tetap saja manusia tidak cukup mengetahui. Namun, barangkali ruh-ruh telah saling menyapa sebab ruh kita telah lama saling mengenal di alam sebelum ini. Ruh yang sama-sama berkhidmat kepada kebaikan, bermuara pada Rabbul’alamiin, meski raga tak jua bersua. Tidakkah kau rasa? Akankah suatu saat nanti ruh-ruh ini bertemu kembali dalam abadi?

ALLAH MENYAYANGI HAMBA YANG MURAH HATI — Al-Wasathiyah wal I’tidal

ALLAH MENYAYANGI HAMBA YANG MURAH HATI •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• «يقول رسول اللَّهِ صلى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى سَمْحًا إِذَا اقْتَضَىl» Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyayangi seorang hamba yang murah hati jika berjualan, bermurah hati jika membeli dan bermurah hati jika memutuskan.” ( HR. Ibnu Majah: 2194) […]

ALLAH MENYAYANGI HAMBA YANG MURAH HATI — Al-Wasathiyah wal I’tidal

Self Discovery

Dear you,

Pernahkah merasa kamu berbeda atau bahkan merasa asing? It is okay dear, you are all good. Seiring bertumbuhnya usia, seiring berjalannya kehidupan, kamu akan memahami mana hal-hal esensial dan mana hal yang at the surface level. Pada saatnya itu pula ada pilihan-pilihan yang kemudian memang tidak selalu menyenangkan banyak orang. But, dear, it is all well. Because even if no one think you matter, Allah thinks you matter. Even if we decide what is best for us and not everyone appreciates but it is in the favor of Allah, that is all we need. To choose what pleases Him.

Pernahkah merasa dirimu amat sangat complicated? Dan ketika orang lain menganggap hal-hal yang berarti seperti remeh temeh dan sangat mungkin terjadi menjadi hal-hal yang tidak penting atau bahkan make fun of it. I know sometimes we take things personally. But, the thing is we have eyes, ears, hearts, and minds; those are the gifts of Allah. Dan salah satu cara kita bersyukur ialah mengapresiasi bahwa kita melihat dg lensa mata yang kita miliki dan lensa mata yang orang lain pakai. Try to put our feet in someone else’s shoes. Try to see by seeing from someone else’s eyes. Try to think by thinking from someones else’s minds. Try to feel by feeling from someone else’s heart.

Kau tahu mengapa pelangi itu indah? Karena ia berwarna-warni berharmoni tidak menuntut atau mempertanyakan kenapa dirinya berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Dan karena dia dicipta dari sebuah cahaya putih yang dibiaskan (terdispersi) sehingga cahaya yang adalah gelombang terbagi ke dalam panjang gelombang yang berbeda. Perbedaan panjang gelombang inilah yang mengakibatkan munculnya tangga warna yang kita sebut pelangi. Begitu pula manusia. Manusia itu unik dengan karakteristiknya masing-masing. Mereka memiliki kesamaan dalam fitrah yang mengarahkannya kepada kebaikan dan niat baik. Jika ada orang yang jahat dia artinya sedang tercerabut dari akar fitrahnya. Namun, perihal karakter kita tak bisa menilai baik-buruk tanpa konteks atau penyesuaian pada frame setiap keunikan karakternya. Apabila ada mereka yang memang hidup dalam layer, mereka bukan tidak ingin menunjukkan diri aslinya atau mungkin kita justru yang berprasangka buruk apabila kita menilai bahwa orang yang berusaha keras menjaga dirinya itu sebagai orang yang fake. Hal ini tidak bersifat absolut. Tidak semua yang tidak ditampakkan adalah fake. Karena ada sifat manusia yang memang memiliki kenyamanan pada lingkaran tertentu artinya dirinya hanya cukup dikenal oleh orang-orang yang memang matter untuknya. Kepribadian inilah yang mungkin identik dengan sifat yang dominan sebagai introversion. Mereka tidak membuka diri pada sembarang orang. Ada pula, mereka yang tampaknya extrovert tetapi sejatinya ada sisi introvert. And all are good. They are not good or bad. They are just different personalities.

Fake personalities ini jadi topik yang menarik juga ya. Yang perlu dipahami bersama, setiap manusia memang memiliki kadar yang berbeda. Coba lihat bintang-bintang saja memiliki tingkat terang yang berbeda. Mengapa ini terjadi? Karena barangkali intensitas cahaya yang dipancarkan setiap bintang memiliki tingkatan yang berbeda. And that doesnt define which one is better off. No not at all. It shows uniqueness. Fake personalities yang kita gaungkan adalah ketika kita tidak menerima diri kita dan framing menjadi pribadi yang bertolak belakang dengan kenyataan.

Lalu, apakah kemudian kita berhak untuk men-judge which one is fake and which one is true? My dear friend, the one who deserves to measure one’s intention is Allah. We can measure by our limit as a human, but the ability to measure people’s intention are limited because we see only what is visible. And that creates biases and wasteful act. And if at some points, you feel unworthy because of sin, know that Allah’s forgiveness is open widely to you, it is just ONE sujud away. Istighfar and do sajjada with humility, insha Allah, Allah loves those who repent. And if Allah protects you with modesty meaning that He saves you with good and keep you from the revelation of sin, that also doesn’t mean that you need to show off your sin. No, they are two different things. If Allah keeps your ugly part, it is because of His mercy and you should be grateful for that. And there is no need to show it off or even think that if you don’t show it off you feel guilty or naive. No. Because it is part of modesty, dear. That is even more essential if you are a leader or even influencer, or may be you are a mother. Everyone has identity. You need to address which ones are necessary for you to show to your kids, and which are not. You need to be mindful to your own deeds, because your kids will follow you. Do this by the intention of Allah, keeping it good for Allah, such as to avoid any unexpected or sin followed by others or even the misused of the sin, that is why we need to cover our sin. And if we need to share, make it the intention for goodness, in hoping that others learn from our very own mistake so that they may take some goodness from us.

So, at the end, we need to open our eyes, mind, and hearts. We need to acknowledge what we feel and what we value most and accept what makes us different from others and won’t affect our quality. We need to understand that people are unique.

“I met you as a stranger and I leave you as a friend. We love each other because we are similar. We learn from each other because we are different.”

Because at the end, what matter is what matters to Allah all alone. That is why we repent because sometimes we prefer things that dont please Allah or maybe wasteful stuff or deeds we do, astaghfirullah wa atubu ilayh.

Life is a journey of transformation of self discovery, finding a way back to return home. To the eternal home, Allahu Rabbul ‘alamiin. So, if you feel like you have changed alot and yet, no one understands. It is okay it just needs time. And if it feels strange, no worries. The believers are like travelers, they are always strange for the common senses and to common people in the contrary. We can appreciate the differences and still live in harmony because that what makes it beautiful. But, we dont need to rush or force people. Because at the end, Allah is the owner of guidance. It is because of the roots of our hearts and minds belong to Allah, Yaa Dzal Jalali wal ikram.

Luka adalah Cinta

Tiga jam berlalu. Sudah lama kami tidak bercerita sepanjang ini.

Ia terisak pelan setelah menghabiskan mie rebus di mangkuknya. Aku terdiam mencerna kata-katanya. Dokter memvonis schizophrenia afektif dan dia mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi dokter praktik karena penyakitnya.

Aku mengenalnya sudah hampir 3 tahun. Dia perempuan muslimah mahasiswi Fakultas Kedokteran prestatif yang baik, periang, enerjik, dan selalu optimis. Dia sudah seperti adikku sendiri di tanah rantau. Sampai dia pun diagnosis schizophrenia afektif :’) Sungguh Allah mencintaimu sayang. Jika kau tanya mengapa harus dirimu yang menanggung semua ini. Karena Allah memilihmu. Ada cinta Allah yang dialirkan lewat rasa sakit dan segala diagnosis yang menjatuhkan harapan dan citamu untuk mengabdi dalam bidang yang kau cintai. Barangkali Ia ingin mendekapmu lebih dalam lewat tangis dan doamu. Barangkali Ia ingin menitipkan pesan lewat ketegaranmu. Meski apapun yang kau hadapi, apapun yang terjadi, kau berhati baik, dan cahaya kebaikan selalu membersamai menerangi jalanmu segelap apapun kau rasakan. Kawan, ketika dunia serasa runtuh, ada bahu kecilku yang hadir untukmu, ada kedua telingaku yang siap mendengar segala resahmu, ada hati yang ingin merasakan lukamu. Mungkin aku tak selalu ada hadir di sisimu, tapi doaku menyertaimu. Kau tahu, Allah mencintaimu melebihi rasa sayangku kepadamu yang sangat rapuh ini. Tak cukup bisa mengobati lukamu. Tak cukup kuat menopangmu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.

Seeking Sakeenah through The Quran

I am walking on a road of time blown by a freezing breeze. Here, I am waiting for a ride of bliss.

I searched for a tranquility. I looked for it in some faces, voices, and places. It wasn’t there. I found it in solitude, instead. In my broken voices, trembling, reciting His words feels like the drizzle pouring over my desert that blooms in my heart, by and by.

Saya mencari ketenangan. Saya mencarinya di beberapa wajah, suara, dan tempat. Ia tidak ada di sana. Saya menemukannya dalam kesendirian, sebagai gantinya. Dalam suaraku yang patah, gemetar, melafalkan kata-kata-Nya terasa seperti gerimis yang mengguyur padang pasirku yang mekar di hatiku, terus menerus.

(Nurisma Najma)

Beberapa waktu tempo hari, sudah agak lama, saya iseng bertanya ke teman-teman melalui polling di IG story. Seberapa sering kah mereka membaca ayat Al Quran yang ketika dibaca pesannya terasa relate dengan kehidupan, masalah atau pikiran yang membelenggu dan menggelisahkan?

Hampir 100 persen dari responden sepakat bahwa mereka menemukan pesan dari Al Quran yang somehow relate dengan apa yang tengah dihadapi atau at the very least membuat mereka merasa lebih tenang. Masya Allah, hal ini seperti yang Allah sampaikan dalam QS Yunus: 57.

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

(QS. Yunus: 57)

Pada suatu masa, pandemi datang bukan tanpa tujuan. Rasa sedih tentu sangat manusiawi hadir tersebab banyak rencana dan pertemuan yang tertunda. Rasa rindu tentu adalah fitrah yang muncul dikarenakan pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik sesorang tetapi juga kesehatan batin, ketenangan batin apalagi bagi para perantau. Pada titik di mana aku mencoba mencari ketenangan, aku mencoba praktikan pesan Teh Nusaibah sebelum berinteraksi dengan Al Quran yakni memohon kepada Allah. Pada saat itulah, aku bertemu dengan sebuah ayat yang ternyata adalah dalil atau sumber kisah yang belum lama sebelum pandemi datang aku presentasikan di kelas. Waktu itu aku memilih Abu Bakar As Shiddiq untuk diceritakan di kelas. Momen yang di-capture salah satunya kisah perjalanan Rasulullah SAW bersama Abu Bakar. Rasanya baca ayat ini (QS At Taubah: 40) di saaat diri sedang sedih, kalut, dan bingung dengan kondisi pandemi saat itu sangat menentramkan. Dan ternyata ini juga salah satu ayat al-sakinah yang dibahas Ust Faris tempo hari belum lama dalam kelas tafsirnya. Masyaa Allaah hikmah Allah bertebaran di mana-mana :”)

Dalam QS At Taubah: 40 itu dikisahkan Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua. Abu Bakar menyampaikan kekhawatirannya akan keselamtan Rasulullah SAW. Lalu, Rasulullah SAW menenangkan dengan berkata, “La tahzan, innallaha ma’ana. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Masya Allah, di saat seperti hopelessness hadir dalam benak, ada Rasulullah di sini yang menguatkanmu dengan perkataan menyejukkan meski sesungguhnya Rasulullah berbicara kepad Abu Bakar tetapi perkataan ini terabadikan di dalam Quran yang menjadi petunjuk, pelajaran, dan tentunya rahmat Allah bagi kita. Sejak itulah aku selalu berusaha praktikkan memohon dan bercerita kepada ALlah sebelum memulai membuka mushaf di hadapanku. Sebenarnya petunjuk itu sudah ada sejaklama, setiap orang juga pasti merasakan ketnangan setiap mendengar atau membaca Al Quran tetapi kesungguhan atau kepekaan terhdap hikmah itu yang mungkin membutuhkan proses dan perjalanan yang tidak mudah.

Dulu, saat aku masih jahiliyyah, aku yang sangat suka musik ini mencari ketenangan pada musik meski aku juga suka mendengarkan murottal dengan bacaan Quran yang indah mengisi playlist-ku bercampur dengan Quran dalam barisan playlist-ku. Aku sadar ada hal yang aneh dengan hal ini (mencampur musik dan quran) tapi sepertinya aku belum benar-benar seutuhnya memahami.

Namun, Quran berbeda dengan musik. Quran adalaah kalamullaah, yang sudah ter-install dan memang seharusnya ada di dalam hati. Terlepas dari perbedaan pendapat yang muncul, aku belum lama memutuskan untuk berhenti dari aktivitas yang berhubungan dengan musik :” I know this is not easy for me and may be some of you, too. But, trust me, when you need some tranquility, never come to music, it wont give you the tranquility you need.

Seharusnya aku sadar dari kuliah karena aku sudah sangat merasakan manfaatnya murottal dalam perjalananku sendiri. Jadi di fakultasku, ada namanya Perang KRS setiap semester itu untuk menentukan siapa dosen dan mata kuliah yang akan kita ambil. Untuk mendapatkan dosen yang diidamkan, kami harus berebut kursi dengan mantengin portal. Tak jarang ada juga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berjualan kursi dengan tarif tinggi :” Hampir semua orang book warnet dan tempat-tempat yang memberi akses internet super cepat. Aku? Aku pernah sekali mencoba KRS di warnet bersama teman-teman tapi gagal karena aku nggak betah lama-lama di warnet apalagi ketika kebru larut, akhirnya aku pulang duluan hehe. Jadilah aku anak yang paling selo di angkatanku dengan KRS di rumah mengandalkan modem yang lemot. Alhamdulillah aku tetap dapat kelas yang aku inginkan meski tidak selalu mendapat nama dosen yang diimpikan karena baik atau terkenal murah nilai. Mau tahu tipsku bisa KRS dengan tenang dari rumah? Aku sambil dengerin murottal… Aku tahu ini sangat nggak logis bagi anak-anak FEB yang semuanya harus terukur dan by logics. Tapi entahlah sepertinya sedari kecilku hidupku memnag tidka pernah logis, karena ada yang lebih powerful dari sekadar logika manusia, logikanya Allah, keajaiaban dan pertolongan Allah.

Aku pernah gagal KRS jadi dapat dosen yang kata kaka angkatan killer. Namun, kesalahan itu dimulai sejak mindset kita berfikir sepert kata orang, sehingga setiap kejadian dan tindakan beliau terasa seperti momok meski iya mungkin saya nggak cocok dengan tipikal kasar dan suka lempar barang di kelas. Karena nyatanya, beberapa teman berhasil lolos dengan nilai tinggi. Tidak dengan saya karena saya masuk kelas dengan perasaan tidak tenang begitu mengalami prosesnya semakin tidak bisa tenang. Mungkin akan berbeda jika saya tidak menaruh mindset sepert yang dikatakan orang. Maka berhati-hati ya mungkin ada yang masih mahasiswa dan sering ikut kata kaka kelas terkadang kamu tidak perlu mendengarkan kata orang karena sebenarnya hati dosen itu ada di genggaman Allah, ubah mindset yakin sama Allah insya ALlah dimudahkan. Saya mengulang kelas itu di kelas yang alhamdulillah diampu ibu favorit saya meski sekarang sudah mengundurkan diri dari dosen karena ingin mengabdi di rumah. Masya Allah wanita sepert beliau sangat jarang ditemui di fakultas, begitu mempesona saya rindu sekali Bu Wiwin :”(

Namun, aku akui rasa-rasanya waktu itu aku masih menduakan Quran dengan musik dan hiburan pada masa itu. Astaghfirullah. Isna di masa lalu seorang mezzo soprano di concert choir dan beberapa kegiatan yang memang aku memiliki bakat di situ setelah aku rasa-rasakan semakin aku bertumbuh dewasa itu bukan hal yang membuatku bahagia apalagi menenangkan. Ada rasa malu tentu saja, mungkin sedikit demi sedikit dengan kita mendekat kepada Allah kita akan menyadarinya (ini yang kemudian disebuah izzah dan iffah yang terbangun ketika kita mencoba untuk fokus sama Allah). Bahkan, belum lama aku mem-post sebuah puisi dengan iringan instrumen atouna toufule yang mungkin subjektif ya mungkin ada yang merasa biasa aja ada juga yang merasa too much. Namun, setelahnya aku membaca entah dalil atau pesan apa ya yang tentang suara wanita :” berasa ditampar sejadi-jadinya. Langsung seketika cari cara take down puisi itu meski sebeanrnya puisi itu memiliki pesan yang baik hanya latar musik yg too melow membuatnya kurang nyaman untukku sendir, puisi berjudul Muslim Child karya Rukhsana Khan kado dari mama di WW (sila googling ya insya Allah nemu). Jadi, untuk saat ini aku memilih absen dari semua itu ya sahabat dan kawan-kawan semua. Podcastku juga polosan aja murni suaraku. Tumblr masih ada instrument dan Asmaul Husna. Belum tahu cara take down-nya so far yang di tumblr masih okelah bisa kok instrumen ga too much semoga. Tidak ingin berdebat tentang ini hanya ingin mencoba menjaga diri dulu, mohon doanya, sunguh ini tidaklah mudah.

Dan, pada suatu masa aku menemukan ayat ini ketika aku memohon kepada Allah agar dikaruniakan hati yang bersih dan ikhlas.

“Jika Allah melihat ada kebaikan di dalam hatimu, niscaya Allah akan mengganti apa-apa yang diambil darimu dengan yang lebih baik.”

Kalau tidak salah ingat ini ada di QS Al Anfaal tapi aku lupa ayatnya. kalau dilihat dari koteks atau asbabun nuzulnya sebenarnya ini tentang harta rampasan perang, Allah berbicara kepada mereka yang diambil hartanya. Namun, wallahua’lam mungkin Allah memberikan pesan senada ini untuk refleksi bagi kita yang membutuhkannya. Setiap ayat yang Allah tunjukkan atau gerakkan lisan kita adalah rahmat dan semoga kita lebih peka ya terhadap hikmah dan pesan yang Allah ingn sampaikan baik lewat ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah yang bertebaran di alam semesta ini.

Allahummarhamna bil Quran. Allahumma as alukalisaanan shaadiqan wa qalban salima. Allahul musta’an.

Seeking Sakeenah through Mindfulness

Bagaimana kabarmu?

Yuk coba jawablah dengan jujur. Katakanlah pada dirimu sendiri apapun yang kini kau rasakan karena pertanyaan ini tidak untuk berbasa-basi. Tanyakan kondisi hatimu, jiwamu, yang paling tersembunyi di dalam dirimu.

Tak apa-apa jika kau merasa tidak baik-baik saja. Itu artinya, kau tengah menyadari apa yang kau rasakan. Selamat, berikan sedikit apresiasi untukmu, sebab kau telah mengenali dirimu sendiri. Menyadari ada sesuatu yang tak baik-baik saja adalah langkah awal. Semoga apapun yang tengah kau hadapi saat ini, entah sesuatu yang membahagiakan atau menyedihkanmu, semoga sesuatu itu membuatmu merasa tenang bukan karena besar kecilnya ia, tetapi karena engkau mengembalikan segala yang kau rasakan kepada Ia yang menganugerahkan segala rasa yang tengah kau rasakan. Karena dengannya, kau telah berpegang kepada sesuatu yang lebih agung, sesuatu yang hakiki, Yaa Dzal Jalali wal Ikram.

Belakangan ini aku sedang mengambil beberapa kursus jarak jauh tentang Wellbeing and Mindfulness. Ini juga adalah satu dari tujuan Sustainable Development Goals. Oya, apakah mindfulness? Mindfulness secara ringkas dapat dimaknai sebagai kualitas kesadaran akan sesuatu, kondisi mental yang diperoleh karena berfokus pada kesadaran pada momen saat ini, dengan tetap menerima perasaan, pikiran, dan segala yang menggelayuti diri dengan tenang.

Mindfulness sendiri tengah berkembang di barat karena kursus ini juga aku ambil di universitas di luar. Namun, aku baru menyadari bahwa mindfulness ini sangat erat dengan konsep Islam seperti sebuah adopsi nilai Islam. Islam mengajarkan kita untuk bermuhasabah. Islam mengajarkan kita untuk menghisab diri sebelum menghisab orang lain. Islam menanamkan ibadah secara tuma’ninah, sadar atau tidak sadar ini adalah sebuah praktik yang sangat indah, penerapan dari mindfulness.

Dalam konsep iman, islam, dan ihsan sejatinya ada keterkaitan yang bermuara pada Allah sebagai bentuk/praktik kita yang beriringan dengan konsep mindfulness. Keyakinan yang terwujud dalam ibadah yang disertai perasaan selalu diawasi Allah sesungguhnya adalah mindfulness. Kita memang tidak bisa melihat Allah, tapi tingkatan tertinggi, ihsan, adalah kita merasakan bahwa Allah melihat kita. Dalam Islam, ketakwaan adalah derajat yang membedakan manusia di hadapan Allah. Konsep takwa ini adalah sebuah tingkatan yang dicapai seseorang yang sesungguhnya berkaitan dengan konsep mindfulness yang tengah berkembang dalam masyarakat modern.

Lalu, kuteringat pada sebuah materi pembelajaran tauhid untuk anak-anak yang kami siapkan kala itu. Aku bertanya kepada Ustad Maqbul dan Ustad Bastoh yang kala itu membekali kami. Bagaimana metode terbaik menanamkan tauhid kepada anak? Bagaimana mengenalkan Allah yang dapat dipahami anak-anak padahal anak-anak usia dini sangat bergantung pada hal-hal konkrit? Lalu, Ustad Maqbul dan Ustad Bastoh menjelaskan bahwa untuk menanamkan konsep tauhid pada anak dibutuhkan pendekatan yang dekat dengan mereka maksudnya penjelasan bahwa Allah itu ada tetapi kita tidak bisa melihatnya. Allah bisa melihat kita. Allah ada di langit (dan ternyata ada anak yang sudah paham arasy masyaAllah). Kita bisa melihat Allah jika kelak kita masuk surga.

Mana buktinya Allah itu ada? Angkat tanganmu, hadapkan telapak tanganmu ke mulut lalu hembuskan pada telapak tanganmu. Adakah kau rasakan angin mengalir di telapak tanganmu? Tapi apakah kau bisa melihatnya? Begitulah Allah, kita tak mampu melihatnya tapi kita bisa merasakannya melalui tanda-tanda kebesaran-Nya segala nikmat yang kita rasakan. Metode ini ternyata setelah kupelajari lebih lanjut adalah metode pembelajaran anak usia dini dengan pendekatan analogi, yakni menjelaskan suatu konsep dengan sesuatu hal yang tidak berkaitan tetapi familiar bagi anak. Pendekatan konteks kurang bisa diterapkan kepada anak usia dini untuk menyerap hal-hal abstrak atau hal yang tidak lazim ditemui dalam kesahariannya sehingga dibutuhkan analogi yang meskipun tidak berkaitan langsung tetapi dapat ditangkap maksudnya oleh si anak. Hal ini juga berlaku ketika kita menjelaskan konsep tata surya, lambang identitas, dan konsep-konsep abstrak bagi usia anak. Nah ternyata, mindfulness itu sangat dekat dengan jiwa anak. Ingat baik-baik bagaimana ketika masa kanak-kanak kita tidak pernah khawatir tentang masa depan, tidak punya beban (relatively) karena anak-anak masih polos dan mereka hidup pada masa saat ini (living in the moment). Ternyata, guru terbaik dalam penerapan mindfulness adalah anak-anak. Anak-anak pada umumnya selalu optimis dan menikmati detik ini yang mereka alami.

Pada akhirnya mindfulness bermuara kepada tawakkal kepada Allah sebab kita menyadari ada kekuatan di luar diri kita, ada yang menggenggam diri kita dan semua yang ada di sekeliling kita, being aware of Allah, being mindful of Allah. Kesadaran inilah yang semoga memudahkan kita untuk mengembalikan segala urusan kepada Allah. La hawla wa la quwwata illa billah.

Do not carry the worries of this life because this is for Allah. And do not carry the worries of sustenance because it is from Allah. And do not carry the anxiety for the future because it is in the Hands of Allah. Carry one thing: how to please Allah. Because if you please Him, He pleases you, fulfils you and enriches you.

(Ibnu Qayyim)

Masya Allah, sebenarnya tulisan ini terinspirasi juga dari sebuah ayat yang aku baca hari ini. Yang setelah aku renungkan, ini juga sesungguhnya berkaitan dengan mindfulness, being mindful of Allah, being aware of Allah. Hanya dengan keyakinanan pada Allah, bergantung kepada Allah semata, yakin kepada janji Allah yang nyata, dan mengembalikan segalanya kepada Allah. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang disebutkan dan dijanjikan Allah dalam ayat ini. Aamiin Yaa Mujiibassailin :”)

Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?

(QS An-Nisa: 22)

Note:
Beberapa hari kemarin merapikan dokumen dan membuka ulang kumpulan doa yang teman-teman titip ke isna tahun lalu. Masya Allah beberapa doa teman telah diijabah, bahkan ada yang detail dan benar sekali dikasih seperti doanya. Masya Allah tabarakallah.

Wahai Allah, sungguh aku tidak pernah kecewa dalam bermohon kepada-Mu.

Terus aku iseng buka lagi link kado doa yang aku buat: http://bit.ly/KadoDoadiTanahSuci

Menentramkan sekali ya melihat air sungai mengalir dalam link gdocs itu. Dan di banyak gambaran tentang surga sering disertakan air sungai yang mengalir. Waktu itu aku memilih desain itu sebagai gambaran bahwa doaku mengalir untuk kalian kawan-kawan sebagaimana air sungai yang akan bermuara pada suatu titik, pada saatnya doa kawan-kawan akan bertemu dengan ketetapan terbaik Allah insya Allah. Semoga Allah perkenankan.

Mencairkan Hafalan

Istighfar. Sabar tawadhu tawakkal. Sabar dalam belajar. Ini mengingatkan tentang sebuah ayat “hanya orang yang bersabar yang mendapatkan pahala tanpa batas.” Seperti perumpamaan, “the reward for patience is like a flowing water.”

MSB

Setiap kita adalah pemimpin dan penanggung jawab terhadap seluruh hal yang dititipkan pada kita. Mata, telinga, tangan, kaki, hati, ilmu, harta, keluarga, dan lain semuanya akan bersaksi di hadapan Allah kelak setelah hari kebangkitan. Apakah kita menjaganya dengan mempergunakannya di jalan Allah atau tidak. Jika kesaksian mereka baik di hadapan Allah, maka surga balasannya. Jika kesaksian mereka buruk, maka nerakalah menanti kita.

Termasuk hafalan Alquran yang Allah berikan. Karena pahala yang sangat agung menjadi bayaran buat sesiapa yang ikhlas dalam menghafal serta totalitas dalam menjaga dan mengulangnya, dosa yang amat besar pun akan Allah siapkan buat mereka yang riya’ saat menghafal lalu abai dalam menjaganya.

Dan siapa yang lebih dzalim dari mereka yang telah diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu berpaling darinya dan melupakan semua yang telah diusahakan oleh kedua tangannya?! Sungguh Kami jadikan pada hati mereka penutup dan pada telinga mereka penyumbat. Dan jika kamu mengajak mereka kepada hidayah…

View original post 1,004 more words